03/11/11

Jejak Masuknya Islam ke Lombok


masjid-bayan-belek
Desa Bayan, Lombok Barat, 80 kilometer arah utara Mataram, ibu kota Nusa Tenggara Barat, dan keseharian masyarakatnya selama bulan suci Ramadhan tidaklah berbeda dengan banyak wilayah pedesaan di Indonesia. Yang membedakan adalah adanya bangunan kecil bersahaja dari bambu di desa itu yang menjadi penanda masuknya Islam ke pulau tersebut. Itulah Masjid Bayan Beleq. Dari tepi jalan lingkar Pulau Lombok, keberadaan bangunan yang telah menjadi situs purbakala yang dilindungi tersebut tak mencolok, seperti juga rumah-rumah di desa itu. Dari tepi jalan hanya tampak pagar tembok dengan dua rumah kecil di kedua sisi gerbang, kantor tempat pendaftaran pengunjung, dan rumah penjaga situs.
Baru setelah memasuki pagar beberapa belas meter di tengah rindangnya pepohonan tampak sebuah gubuk di puncak bukit kecil. Itulah Masjid Bayan Beleq. Berukuran 10 x 10 meter, dindingnya rendah dari anyaman bambu. Atapnya berbentuk tumpang disusun dari bilah-bilah bambu. Fondasi lantai yang tinggi dibuat dari susunan batu-batu kali.
Lantai masjid dari tanah liat ditutupi tikar buluh. Empat tiang utama penopangmasjid dari kayu nangka berbentuk silinder. Di tiang atap masjid tergantung beduk kayu. Di belakang kanan dan depan kiri masjid terdapat dua gubuk kecil. ”Itu makam tokoh-tokoh agama di masa awal masjid ini,” ujar Kerta Murti, warga asli Bayan, penjaga situs masjid.
Masyarakat Bayan tak menggunakan Masjid kuno itu. Mereka memiliki masjid baru yang jauh lebih luas dengan bangunan lebih modern. Meski demikian, Masjid Bayan Beleq adalah kebanggaan. ”Ini masjid kuno dari abad ke-17. Ada di sini karena Islam masuk Lombok dari Bayan. Kayu soko guru masjid masih asli. Juga beduknya, Hanya kulit sapinya yang baru,” kata Kerta. Masjid Bayan Beleq tetap digunakan untuk shalat dan tarawih, terutama oleh ulama dan pemangku adat.
Menurut Usri Indah Handayani, Kepala Seksi Koleksi dan Bimbingan Edukasi Museum Negeri NTB, Islam masuk ke Lombok abad ke-17. Namun tidak hanya melalui Bayan.
Selain di Bayan, masjid kuno juga ada di Gunung Pujut dan di Desa Rembitan. Keduanya di Lombok Tengah, di sisi Selatan pulau. Meski punya ciri yang sama, situs dan budaya di tempat-tempat itu memiliki perbedaan yang menjadi tanda Islam masuk Lombok di beberapa tempat sekaligus. ”Islam masuk Lombok melalui Jawa, Gowa, dan Bima. Mengenai Bayan, masuknya dari Jawa,” kata Usri.
Sejak itu agama dan budaya Islam masuk ke Lombok secara bergelombang melalui perdagangan dan interaksi sosial.
Kerta sendiri meyakini Islam dibawa ke Bayan oleh Sunan Prapen, cucu Sunan Giri, salah satu Wali Songo, penyebar Islam di Pulau Jawa. Usri memperkuat keyakinan Kerta tersebut.
”Memang tidak ada peninggalan-peninggalan tertulis yang menyebutkan dari Jawa. Tetapi saya sangat yakin masuknya dari Jawa karena banyaknya penggunaan istilah dari Jawa di Bayan seperti penggunaan kata raden, gusti pangeran,” tutur Usri.
Dijelaskan, masih terpeliharanya situs Masjid Bayan Beleq karena kuatnya tradisi masyarakat. ”Selama ada masyarakat pendukung sebuah tradisi, sebuah situs tetap ada,” katanya.
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0510/26/lebaran/2156486.htm

Pemkab Bima Bahas Kegiatan Upacara Hari Pahlawan

Dikes Kabupaten Bima Gelar Advokasi: Kusta Bukan Kutukan


Penyakit kusta hanya mengenai seseorang yang kondisi/kekebalan tubuhnya lemah dan kontak yang lama dengan penderita kusta tipe basah yang tidak diobati. Oleh karena itu penderita kusta tidak perlu dikucilkan. Demikian simpulan kegiatan  advokasi penyakit kusta tingkat Kabupaten Bima.

        Kegiatan yang dihelat Dinas Kesehatan Kabupaten Bima Selasa (2/11)  di Aula Dishubkominfo Kota Bima,  diikuti oleh perwakilan Dinas dan Instansi Lingkup Pemerintah Daerah Kabupaten Bima, Camat dan Kepala Desa, perwakilan Puskesmas se-Kabupaten Bima.
          Pada kesempatan tersebut, drg. Hj. Siti Hadjar Joenoes Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bima dalam sambutanya mengatakan bahwa, Bima merupakan penyumbang terbesar penyakit kusta di Nusa Tenggara Barat (NTB). Oleh sebab itu, diadakan advokasi kepada seluruh pihak-pihak terkait mengenai penyakit kusta tersebut. Diharapkannya, melalui forum pertemuan yang menghadirkan pembicara yakni dr. Christin Widyaningrum dari Kementerian Kesehatan RI, I Made Suadnya, M.Kes dari P2L Dikes Propinsi NTB, Hadjar berharap  bisa ditemukan solusi sebagai jalan keluar mengatasi merebaknya penyakit kusta.
       Diakui Kadis Kesehatan ini, angka penderita kusta di Kabupaten Bima dari tahun ke tahun belum bisa diminimalisir bahkan semakin bertambah. Oleh sebab itu, pihaknya sedini mungkin mendeteksi setiap masyarakat Kabupaten Bima dengan cara terjun langsung ke lapangan. Hal itu dilakukan agar bisa diupayakan pencegahan.
“Dikes masih mengalami kesulitan menangani kasus lepra, mudah-mudahan dengan adanya forum ini Kabupaten Bima dapat mencapai eliminasi mengingat banyaknya penderita penyakit Lepra di Kabupaten Bima”. Harapnya.
Sementara dr. Christin Widyaningrum dalam paparannya menjelaskan, penyakit kusta merupakan penyakit yang menahun dan disebabkan oleh kuman Kusta (Mycobacterium Leprae) yang menyerang kulit, saraf tepi dan jaringan tubuh lainnya. Gejala awal dari penyakit kusta, kelainan kulit berupa bercak putih panu ataupun kemerahan yang kurang rasa ataupun mati rasa, tidak ditumbuhi bulu, tidak mengeluarkan keringat, tidak gatal dan tidak sakit, sehingga penderita sama sekali tidak merasa terganggu.
Gejala lanjut ditandai dengan, adanya kecacatan,  tidak bisa menutup mata, bahkan sampai buta, mati rasa pada telapak tangan, jari-jari kiting, memendak (Absorbsi) dan  putus-putus (Mutilasi), lunglai, mati rasa pada telapak kaki, jari-jari kiting, memendak dan putus-putus, simper. Christin menambahkan, ada dua jenis penyakit kusta ; kusta kering (Pausi Basiler) dan kusta basah (Multi Basiler). Kedua jenis kusta tersebut bukan disebabkan oleh, kutukan, keturunan, dosa, guna-guna, makanan tetapi disebabkan oleh kuman Kusta. Keterlambatan berobat ke pelayanan kesehatan yang menyebabkan terjadinya kecacatan.
        “Supaya tidak cacat kenali gejala kusta lebih awal, apabila kuman kusta sudah terinveksi maka, rajin ke Puskesmas dan minum obat secara teratur”. Jelasnya.
       Masih menurut Christin, tidak semua orang dapat tertular penyakit kusta, hanya sebagian kecil saja (sekitar 5 %) yang dapat tertular. Kondisi tubuh yang lemah memudahkan tertular penyakit kusta. Penyakit kusta dapat menular dari penderita kusta tipe basah yang tidak diobati. Penularan dapat terjadi melalui pernapasan dalam waktu yang lama.
        Oleh sebab itu, Christin menghimbau sedini mungkin kenali dan cegah penyebaran kuman kusta, imunisasi BCG pada bayi membantu mengurangi terkena kusta, segera berobat ke Puskesmas bila mengalami kelainan kulit berupa bercak mati rasa menjadi tebal, dan bertambah merah atau bercak bertambah banyak disertai demam dan nyeri otot.
       Mengakhiri penyampaian materinya, Christin menjelaskan bagaimana pengobatan penyakit kusta, menurutnya obat untuk menyembuhkan penyakit kusta dikemas dalam blister (keeping) yang disebut Multi Drug Therapy (MDT). Lama minum obat tergantung dari jenis penyakit kusta. Untuk jenis kusta basah obat harus diminum setiap hari selama 12 bulan. Untuk jenis kusta kering obat harus diminum setiap hari selama 6 bulan.
        Sementara I Made Suadnya, M.Kes mengatakan, Jumlah penduduk NTB pada tahun 2010 sebanyak 4.437 juta jiwa, relevansi rate 0,57 persen/10.000 penduduk.
  Dari 100 ribu orang di NTB ada sekitar 6 orang yang terinveksi kuman lepra.
        Sedangkan data penderita kusta tahun 2010 di Bima ; 53 orang dengan tipe Pausi Basiler dan 58 orang dengan tipe Multi Basiler. “Angka tertinggi penemuan kasus lepra ada di Kota Bima dan yang terendah terdapat pada Kabupaten Lombok Utara”. Jelasnya.
          Made meyakinkan, tidak perlu malu dengan predikat angka tertinggi kasus lepra. Semangat yang tinggi dan kemauan yang keras merupakan ujung tombak untuk memerangi penyakit lepra. Oleh sebab itu, I Made mengharapkan agar sedini mungkin mendeteksi adanya penyakit lepra di masyarakat supaya bisa ditangani dan dicegah. “Nggak usah khwatir, temukan kasus ini sebanyak-banyaknya supaya bisa diobati sedini mungkin” tegasnya.
         Sementara itu, Kabid P2PL Dikes Kabupaten Bima Tasmin Bukhori SKM  menjelaskan situasi Kabupaten Bima tahun 2011 dengan jumlah penduduk 443 ribu, Kabupaten Bima merupakan endemic tinggi. Prevalen rate 2,7/10.000 penduduk. Sedangkan case detection rate sebanyak 24/100.000 penduduk. Proporsi Multi Basiler sebanyak 72,6 persen, proporsi anak sebanyak 11 persen, prorsi cacat tingkst II sebanyak 0,02 persen.
       Masih menurut Tasmin, strategi penanggulangan program kusta terdiri dari ; pemberdayaan Tokoh Masyarakat (TOMA) sebagai kader untuk menemukan penderita sebanyak-banyaknya sesuai dengan tanda gejala yang telah dilatih oleh Nakes, OJT petugas Pustu dan Bidan desa. 

(sumber: http://www.sumbawanews.com/berita/daerah/dikes-kabupaten-bima-gelar-advokasi-kusta-bukan-kutukan.html#CommentForm)

Nilai Ferry Gagal Sejahterakan Rakyat



Sementara itu, massa APPR dalam orasinya di Cabang Gunung Dua, menuntut perbaikan Jalan Lintas Ambalawi-Wera. Massa ini menilai, ada diskriminasi pemerintah karena tidak memperhatikan sama sekali jalan tersebut. Mereka juga menuntut adanya klarifikasi dari pemerintah dan dewan berkaitan dengan keberadaan pertambangan di Ambalawi dan Wera.
Di kantor DPRD, massa APPR juga melakukan orasi, yang isinya tdak jauh berbeda dengan yang disampaikan ketika berorasi di Cabang Gunung Dua. Sayangnya, aksi massa ini pun tidak mendapat respons dari para wakil rakyat yang saat itu sedang melakukan rapat.
Dari kantor dewan, massa melanjutkan aksinya di depan Kantor Bupati Bima. Dalam orasinya, mereka menilai Bupati Ferry Zulkarnaen, telah gagal dalam mensejahterakan rakyatnya. Ini dibuktikan dengan tidak diperhatikannya Jalan Lintas Ambalawi-Wera.
“Di jalan itu sering terjadi kecelakaan lalu lintas dan menyebabkan jatuhnya korban jiwa,” ungkap salah satu orator. Setelah berorasi, massa membubarkan diri

2,3 Hektare Benteng Asa Kota Disertifikat Pribadi


 Waktu zaman penjajahan, Benteng Asa Kota (mulut kota), Kecamatan Soromandi, merupakan tempat pertahanan masyarakat Bima dan sekitarnya dalam melawan atau menghadapi serangan musuh dari arah laut. Namun, sejak 2001 lalu, sekitar 2,3 hektare wilayah bersejarah itu disertifikat sebagai milik pribadi oleh oknum tertentu.
Mengetahui hal ini, tentu masyarakat di wilayah hasil pemekaran Kecamatan Donggo itu memberikan reaksi keras. masyarakat setempat berjanji tidak akan tinggal diam, sampai ada penanganan serius dari pihak-pihak terkait.
Sebagai bentuk protes dan penolakan wilayah dikavling pribadi seperti itu, mereka (masyarakat) melayangkan surat kepada DPRD Kabupaten Bima. Kini, persoalan tersebut sedang ditindaklanjuti para wakil rakyat, terutama dari Daerah Pemilihan (Dapil) I; Soromandi, Donggo, Bolo dan Madapangga.
tanah yang disertifikatkan dimaksud seluas 2,3 Ha. Yang mensertifikatkan dua oknum yang belakangan dikabarkan berdomisili di Mataram. Satu orang mensertifikat 1,5 Ha, dan satu orang lagi mensertifikat 70 are.
Masuk Situs Sejarah, Terlarang Dimiliki Pribadi
Ketika dikonfirmasi hal itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bima H. Nurdin, SH, menegaskan sangat tidak setuju jika wilayah bersejarah, Benteng Asa Kota, tersebut disertifikat pribadi oleh oknum-oknum tertentu.
“Kawasan itu terlarang dimiliki secara pribadi. Meskipun belum menjadi cagar budaya, namun Benteng Asa Kota sudah masuk dalam Situs Sejarah Mbojo,” tegas Nurdin pada Gomong.Com, di Mataram.
Bahkan, untuk menjaga dan membersihkan kawasan itu, Disbudpar Bima telah menempatkan juru pelihara situs, sejak beberapa tahun lalu. “Selama ini juru pelihara membersihkan semua kawasan itu, tidak mengetahui kalau sebagiannya telah disertifikat oleh orang lain,” paparnya.
Untuk menyelesaikan persoalan itu, dalam waktu dekat pihaknya akan melakukan pertemuan dan membahas bersama sejumlah pihak terkait. Diantaranya, Bagian Tata Pemerintahan Setda Kabupaten Bima sebagai pihak yang menangani aset daerah, Badan Pertanahan Nasional (BPN) yang telah mengeluarkan sertifikat, Camat dan Kepala Desa setempat.
“Selain itu, kami juga akan turun dan cek ke lokasi untuk melihat batas-batas kepemiliki lahan itu dan lainnya,” ujar pria berpenampilan sederhana ini seraya menegaskan, terkait keabsahan sertifikat merupakan urusan BPN.
(http://www.gomong.com/2011/11/02/10852/23-hektare-benteng-asa-kota-disertifikat-pribadi/)

Oknum Syafruddin Digerebek di Losmen


Dibela mati-matian, guru Syafruddin SPdi justru mencoreng korpsnya sendiri Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Belum tuntas urusan pemukulan siswa yang sedang diproses Polres Bima Kota, oknum tersebut kembali berulah.
Sekitar pukul 09.00 Wita, Rabu (2/1 1),   oknum Syafruddin  digerebek anggota Polsek RasanaE di kamar sebuah Losmen Putrai di Kota Bima. Oknum guru itu diduga bersama perempuan dalam kamar  bukan muhrim.
Saat  dilakukan penggrebekan, oknum guru Bahasa Arab MTsN Padolo berusaha kabur melalui loteng Losmen , tapi tidak berhasil. Namun Syafruddin berhasil mengelabui dua aparat yang berusaha menangkapanya. Alhasil, hanya Dwi (teman perempuan Syafruddin, Red) yang diamankan dan diperiksa di Polsek RasanaE Barat.
Syafrudin yang ditemui wartawan di rumah Ketua PGRI Kota Bima Drs H Sudirman membantah jika bersama perempuan di kamar Losmen. Saat Polisi datang, mereka berada di luar kamar. ‘’Saya dijebak, karena ada kepentingan terkait kasus sebelumnya,’’ katanya.
Menurutnya, dia masuk ke Losmen Putra Sari bersama ceweknya untuk mengamankan diri, karena dikejar oleh keluarga Syahbudin dari terminal Dara. Ceritanya, Syafrudin dan ceweknya dari Ama Hami, ketika lewat Terminal Dara, dicegat  beberapa orang keluarga Syahbudin. ‘’Orang-orang itu meminta agar kasus saya dengan Syahbudin diselesaikan secara kekeluargaan,’’ terangnya.
Merasa tidak aman, Syafrudin mengaku kabur dengan ceweknya kearah Utara. Karena terus dikejar, menghindar dari kejaran itu dia masuk Losmen Putra, kebetulan suasananya sepi. ‘’baru beberapa detuik kita masuk Losmen, tiba-tiba muncul Polisi, meminta KTP saya kemudian mengajak saya ikut ke Kantor Polsek RasanaE,’’ akunya.
Saat itu Syafrudin bertahan tidak mau ikut ke Kantor Polsek. Saat ceweknya ditarik paksa dan terjatuh, Syafruddin mengambil kesempatan untuk kabur meninggalkan ceweknya di Losmen itu bersama Polisi. (Anita/Alf)
sangat di sayangkan pendidikan kita tercoreng kembali, sudah banyak di beritakan di media bahwa pendidikan di bima mulai jauh dari asas mendidik.(86)

5 siswa SMP Bima menjadi Duta NTB pada Jambore UKS Nasional 2011

SMPN 1 Monta, Duta NTB pada Jambore UKS Nasional 2011

SMPN 1 kecamatan Monta kembali mengukuhkan diri sebagai “Sekolah Prestasi” di Kabupaten Bima bahkan di NTB. Prestasi di penghujung tahun 2011 ini berhasil dicatat setelah 5 orang siswa SMPN 1 Monta terpilih menjadi Duta NTB sebagai peserta “Jambore UKS” tingkat Nasional yang akan berlangsung 31 Oktober 2011 sampai dengan 3 November 2011 di TMII Jakarta.

Sekolah dengan motto “Tiada Hari Tanpa Prestasi”, ini sebelumnya juga telah berhasil menempatkan 2 orang siswanya menjadi peserta Jambore Nasional beberapa waktu lalu 2011 di Jakarta.

Di Ibukota negara ini nantinya, kelima siswa ini akan bersaing dengan rekan-rekannya dari Provinsi lain yaitu Irma Cahyani pada bidang Lomba Kader Kesehatan Remaja, Muh. Mujahidin, Eni Alfiani Agustina dan Sri Ratna Wahyuni (Lomba Cerdas Cermat UKS) dan Nurul Hadiatun (Lomba Cipta Dan Baca Puisi bertema: sekolah sehat dan kebersihan dan keindahan sekolah)