29/07/11

Kekuasaan Majapahit di Bima pada Era Raja Indra Zambrud


Kerajaan Bima abad XIV/ XV adalah salah satu wilayah di bawah kekuasaan Majapahit yang terletak di wilayah Timur Jawa (mancanegara), yang didalam kitab Kakawin Nagarakretagama pupuh XIII-XV di sebutkan wilayah Sanghyang Api (gunung sangiang-wera), di kala itu Bima di pimpin oleh Raja muda yang bernama Indra Zamrud, dan Pusat pemerintahan terletak di wilayah Ncuhi Dara (Bima), kerajaan Bima terbagi dalam 5 (lima) wilayah yaitu : 1. Ncuhi Dara, memegang kekuasaan wilayah Bima Tengah 2. Ncuhi Parewa, memegang kekuasaan wilayah Bima Selatan 3. Ncuhi Padolo, memegang kekuasaan wilayah Bima Barat 4. Ncuhi Banggapupa, memegang kekuasaan wilayah Bima Utara 5. Ncuhi Dorowani, memegang kekuasaan wilayah Bima Timur. Arti luas dari Ncuhi itu sendiri yaitu kepala suku yang memegang wilayah kekuasaannya masing-masing.
Dalam posisi berada di bawah naungan Kerajaan besar seperti Majapahit, jadi Kerajaan Bima harus menyetor Upeti kepada Majapahit.karna pada catatan Odorico da Pordenone, biarawan Katolik Roma dari Italia yang mengunjungi Jawa pada tahun 1321, menyebutkan bahwa istana raja Jawa penuh dengan perhiasan emas, perak, dan permata. Upeti yang di terima dari kerajaan-kerajaan taklukan Majapahit akan dikumpulkan di Majapahit.
Stabilitas Ekonomi Kerajaan Bima
Pada saat itu kerajaan Bima sangat berkembang pesat di segi pertanian maupun peternakan dan perikanan, Kerajaan Bima banyak belajar dan mengadaptasi ilmu dari kerajaan Majapahit dan itu bisa terlihat dari seni ukiran yang terdapat di setiap keris atau senjata khas Kerajaan Bima yang sangat mirip dengan Kerajaan Majapahit (Ukiran dan kerajinan Jawa,sangat kental di Keris Bima), Raja Indra Zamrud sangat memperhatikan keadaan Ekonomi Kerajaan pada waktu itu sehingga Raja  mengembangkan bidang Pertanian dan perikanan, masyarakat Bima pada saat itu banyak yang bercocok tanam dengan di bantu oleh adik sang Raja Indra Kumala yang sekaligus ahli di bidang Pertanian, dengan adanya bukti di Museum Gajah Jakarta yaitu berupa Tungku kuno yang diatasnya berjejer ukiran dan miniatur kodok yang ditemukan di Bima merupakan alat ritual masyarakat bima pada saat itu untuk meminta hujan.
Di bidang peternakan Kerajaan Bima juga tidak mau kalah dengan kerajaan lain, Raja Indra Zambrud juga mengembangkan bidang peternakan yaitu Kuda,Kerbau,dan Sapi. karna banyaknya ditemukan Catatan-catatan para pelaut yang singgah di pelabuhan laut kerajaan Bima pada saat itu. Bima menjadi sebuah keraajan yang berkembang pesat pada saat itu, apalagi Kerajaan Bima merupakan salah satu kerajaan yang didirikan oleh Majapahit, sehingga Kerajaan Bima menjadi Wilayah Transit para pelaut yang akan menuju ke timur. Siti Maryam mengisahkan, “ ini diperkirakan terjadi abad 14. Tapi kemudian diperbarui karena di Kitab Negarakertagama, Kerajaan Bima disebut sudah memiliki pelabuhan besar pada 1365. Ini cocok dengan kisah di Bo Sangaji Kai. Jadi, kemungkinan Kerajaan Bima dimulai pada 1340.”
Dan di tambah catatan para pelaut yang singgah di pelabuhan Bima pada saat itu yaitu Wang Ta-yuan, pedagang Tiongkok,menceritakan “Pelabuhan Bima sangat ramai dengan perdagangan garam,burung kakak tua,kuda.dan perdagangan Budak-budak yang besar dan kuat”.

Perluasan  Kerajaan Bima
Pada suatu masa, ada keturunan Indra Zamrud yang memiliki 30 anak, dua puluh lelaki dan sepuluh perempuan. Anak lelakinya dijadikan raja di beberapa daerah Sumbawa, antara lain di Dompu, Bima, dan Sumbawa. Sehingga banyak terdapat kerajaan-kerajaan di pulau Sumbawa seperti kerajaan Pekat,Kerajaan Sanggar,Kerajaan Dompo (Dompu),Kerajaan Sanghyang (Gunung sanghyang),dan Kerajaan Sumbawa. Pada saat itu penduduk Kerajaan bima mencapai 100.000 ± jiwa se pulau Sumbawa sebelum terjadi letusan gunung Tambora tahun 1815 yang memakan korban 71.000 jiwa. Sehingga banyak terjadi perpindahan penduduk yang merata sepulau Sumbawa tersebut.(86)

sumber(http://networkedblogs.com/jCOtK)

Saksi Bisu Sejarah Islam Di Bima

#saveBima.online. Mesjid yang berdiri kokoh tersembunyi di dalam pemukiman warga di Melayu Kel. Melayu – Asakota itu merupakan saksi Bisu sejarah masuknya Islam di Tanah Bima
langgar kuno saksi Sejarah Islam di Bima
,  Dan Mesjid itu juga adalah Mesjid yang pertama di bangun di Bima. Mesjid itu dikenal orang dengan sebutan Langgar Kuno yang dibangun pada tahun 1608 Masehi, didirikan oleh Syekh Datuk Di Banta dan Syekh Datuk Di Tiro, kedua Ulama ini berasal dari tanah Sumatra yang menyebarkan Agama Islam di wilayah Nusantara Timur. Kedua Ulama tersebut datang ke Bima melalui pelayaran laut bersama Sultan Bima yang pertama Sultan Abdul Kahir.
Sultan Abdul Kahir bertemu dengan Syekh Datuk Di Banta dan Datuk Di Tiro di kesultanan Goa, pada saat Sultan Abdul Kahir di Asingkan dari Tanah Bima, dan memeluk Agama Islam di Tanah Goa. Setibanya di Bima, dan mengambil alih lagi kerajaannya dan merubah menjadi kesultanan. Kemudian Syekh Di Banta Dan Syek Di Tiro kemudian tinggal dimana Melayu daerah Pesisir Kesultanan Bima, dan mereka berdua membangun Langgar Kuno atau Mesjid Pertama di Bima. Mesjid itu merupakan Saksi Bisu sejarah perkembangan Islam di Tanah Mbojo tersebut. Bentuk dan arsitektur Mesjid tersebut sangat kental dengan Arsitektur Bugis dan Sumatra. Bahan – bahannya dari kayu beratapkan genteng – genteng cdan masih terawat dan terjaga dengan baik. Hingga saat ini Mesjid tersebut di gunakan warga setempat sebagai Taman Pembacaan Al-Qur`an Anak – anak (TPA).

sumber (http://networkedblogs.com/jCOtK)

Keunikan Rumah Lengge Di Wawo

#saveBima_online Wawo, dari kejauhan tampak sebuah gubuk yang meruncing segitiga yang terlihat banyak yang atapnya terbuat dari jerami, itulah Rumah Lengge, rumah tradisional masyarakat Wawo yang mempunyai gaya arsitek yang unik , dengan bahan bangunannya kayu dan bambu beratapkan jerami. Dan Rumah Lengge merupakan rumah asli Pribumi suku Mbojo (Bima).
Ternyata rumah Lengge ini berdiri diatas batu kali sebagai dasar rumah, yg hanya empat kaki tanpa semen, rumah lengge ini hanya memakai paku yang terbuat dari kayu dan yang lebih menarik lagi untuk mengikat bambunya tali yang terbuat dari kulit pohon. Rumah Lengge ini juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan padi di atasnya dan ruang tidur dibawah yang mirip saung yang berukuran atau luasnya hanya 8×4 meter.
Rumah Lengge ini ternyata juga rumah anti tikus, dimana tikus maupun kucing tidak dapat masuk dirumah Lengge karena dasar batu rumah dan tiang-tiangnya mempunyai siku yang berbentul huruf L sehingga tikus maupun binatang merayap lainya susah untuk masuk kerumah Lengge.
Masyarakat di desa Wawo  saat sekarang masih menggunakan rumah Lengge sebagai tempat penyimpanan Padi ataupun hasil pertanian mereka. Di Wawo tepatnya di Desa Maria masih berjejer rumah Lengge dan Jompa (rumah yang serupa dengan Lengge), dan dijadikan tempat untuk kunjungan wisatawan yang ingin melihat rumah Lengge dan kehidupan tradisional masyarakat setempat

sumber(http://rumahsolud.wordpress.com/2011/07/20/keunikan-bangunan-rumah-lengge-di-wawo/)

Pasca kedatangan TNI/POLRI kunjungan wisatawan menurun

#saveBima.online :MataramNews. Pasca kedatangan ratusan aparat keamanan gabungan TNI /Polri dan Sat Pol PP NTB ke kawasan Gili Trawangan atau dikenal juga dengan sebutan pulau Sorga, beberapa hari lalu yang berdalih untuk melakukan penertiban miras, narkoba, premansime dan penertiban lahan, membuat jumlah kunjugan wisatawan menurun drastis hingga mencapai 60 persen. Kondisi itu juga mebuat para pemilik hotel dan penginapan mengalami kerugian yang segnifikan.
Hal tersebut dikatakan, Kepala Desa Gili Indah Kecamatan Pemenang Kabupaten Lombok Utara, Haji Muhamad Taufik ditemui wartawan Kamis (28/7/11). Ia mengatakan, sejak kedatangan ratusan aparat TNI/Polri dan Sat Pol PP NTB  itu sebagian besar tamu yang sedang berlibur di gili Trawangan memeperpendek masa liburannya dan pindah kedaerah lain seperti pulau Bali. “Bahkan banyak juga turis yang langsung pulang kenegara asalnya, “beber Taufik.
Kami sudah tidak mampu lagi menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di Gili Trawangan pada wisatawan yang terus bertanya, mereka semua takut dan banyak yang tidak percaya dengan alasan yang kita berikan, “katanya.
“Saya juga sangat menyayangkan ada warga saya yang berinisial JFR yang dimanfaatkan oleh oknum polisi berinisial BDI untuk memberikan laporan melalui SMS tentang kondisi Trawangan yang kondusif dan tidak ada reaksi dari wisatawan, pada hal kondisi itu berbeda dengan sebenarnya. “Silahkan lihat langsung, banyak tamu yang pergi setelah ada aparat di Trawangan, “ungkapnya.
Sukande, salah satu agen ticketing yang beroperasi di gili Trawangan juga menyatakan banyak wisatawan yang membeli tiket keluar dari Gili Trawangan. “Mereka merasa tidak nyaman dan tidak aman sehingga banyak yang beli tiket pulang dan  pindah ke pulau Bali,”katanya.
Hal senada juga dikatakan Hanafi salah satu agen Fast Boat (kapal cepat-red) dari Pulau Bali ke Gili Trawangan, menurutnya hampir sebagian besar tamu yang berada di gili Trawangan bertanya dan merasa tidak nyaman dengan kedatangan aparat TNI/ Polri. “Turis terus bertanya apa sebenarnya yang terjadi di Trawangan, “tuturnya.
Sementara Kepala Dinas Perhubungan Pariwisata Komunikasi dan Informatika (Dishuparkominfo) KLU, Sinar Wugiyarno, SH juga menyayangkan dengan penempatan aparat gabungan di kawasan Gili Trawangan. “ Stabiltas memang harus tetap kita jaga tetapi ada cara-cara yang lebih halus dan lebih baik yang bisa kita terapkan sehingga tidak terkesan daerah dalam keadaan gawat, “singkatnya

sumber (http://mataramnews.com/index.php?option=com_content&view=article&id=2450%3Apasca-kedatangan-tnipolri-kunjungan-wisatawan-menurun&catid=84%3Alombok-utara&Itemid=439)

26/07/11

Media Indonesia - Jumlah Wisatawan ke NTB Tunjukkan Tren Positif

Media Indonesia - Jumlah Wisatawan ke NTB Tunjukkan Tren Positif

Semalam di Bima (opera Bima)

#saveBima.online – Dalam rangka promosi budaya dan pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat, Kabupaten Bima, Anjungan Nusa Tenggara Barat (ANTB) di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), pekan lalu, menggelar kesenian daerah dengan tajuk Weha Oi Niwa (WON).
Sutradara M. Saad Bima menjelaskan cerita WON merupakan cerita Cinta La Fare, kisah cinta anak gadis remaja yang terhimpit jiwanya, dan dia ingin seperti gadis lain yang bebas menikmati masa remajanya. “Ini menggambarkan cinta itu semanis madu juga sebagai dambaan semua insan. Cinta kadang sangat menyakitkan dan membuat kita gila. Nafsu dan kesombongan adalah bumbu intrik untuk memaksa merampas sebuah cinta yang terlarang,” jelasnya pada tubasmedia.com di ANTB, baru-baru ini.
Sayang ruang geraknya sangat sempit, dia tak dapat kemerdekaan dunia remaja karena sang ayah yang otoriter. Hari-harinya murung gundah gulana sedih yang berkepanjangan. Beruntung kehadiran seorang sahabat bisa menghibur saat La Fare sedih. Mereka bisa tertawa bersama bermain sambil menari, begitu berarti punya sahabat.
“La Fare” yang mempunyai mata lentik dan leher panjang membuat dia mempesona sehingga membuat laki-laki berlomba-lomba ingin segera meminangnya. Dengan kilauan emas merekah siap dipetik untuk dipersunting, cintanya diperebutkan oleh tiga lelaki hidung belang. Malapetaka akhirnya datang, tiga lelaki tua, muda, mulai berseteru, sama hati sama rasa ingin menjadikan La Fare menjadi istri mereka.
Agar situasi tidak memanas dan perang saudara tidak terjadi, keadilan ditegakkan siapa saja yang mau mempersunting La Fare harus mengikuti sayembara sederhana di bulan purnama sebelum ramadhan tiba.
Siapapun kalian pergi dan ambillah OI NIWA (madu) dalam hutan rimba, bila di antara kalian dapatkan madu beserta sarangnya datang dan serahkan madu itu padaku, seperti aku menyerahkan anakku La Fare untuk kau nikahi, nikmati cinta semanis madu.
Kepala ANTB TMII, Sahrir Rohman, S.Sos. menambahkan, acara ini merupakan agenda tahunan yang selalu diselenggaran dari daerah Kabupaten Bima. Selain pagelaran kesenian juga didukung industri perdagangan yang akan memamerkan produk-produk unggulan daerah antara lain dengan memamerkan kerajinan lukisan, penjualan madu asli Bima, produk makanan khas serta kerajinan tangan (86*)

(http://www.tubasmedia.com/berita/kabupaten-bima-gelar-kesenian-weha-oi-niwa/)

25/07/11

Samawa Online: Presiden Bahas Percepatan Pembangunan NTB

#saveBima. Samawa Online: Presiden Bahas Percepatan Pembangunan NTB: "Online Samawa - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membahas percepatan dan perluasan pembangunan di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) be..."