#saveBima_online Wawo, dari kejauhan tampak sebuah gubuk yang meruncing segitiga yang terlihat banyak yang atapnya terbuat dari jerami, itulah Rumah Lengge, rumah tradisional masyarakat Wawo yang mempunyai gaya arsitek yang unik , dengan bahan bangunannya kayu dan bambu beratapkan jerami. Dan Rumah Lengge merupakan rumah asli Pribumi suku Mbojo (Bima).
Ternyata rumah Lengge ini berdiri diatas batu kali sebagai dasar rumah, yg hanya empat kaki tanpa semen, rumah lengge ini hanya memakai paku yang terbuat dari kayu dan yang lebih menarik lagi untuk mengikat bambunya tali yang terbuat dari kulit pohon. Rumah Lengge ini juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan padi di atasnya dan ruang tidur dibawah yang mirip saung yang berukuran atau luasnya hanya 8×4 meter.
Rumah Lengge ini ternyata juga rumah anti tikus, dimana tikus maupun kucing tidak dapat masuk dirumah Lengge karena dasar batu rumah dan tiang-tiangnya mempunyai siku yang berbentul huruf L sehingga tikus maupun binatang merayap lainya susah untuk masuk kerumah Lengge.
Masyarakat di desa Wawo saat sekarang masih menggunakan rumah Lengge sebagai tempat penyimpanan Padi ataupun hasil pertanian mereka. Di Wawo tepatnya di Desa Maria masih berjejer rumah Lengge dan Jompa (rumah yang serupa dengan Lengge), dan dijadikan tempat untuk kunjungan wisatawan yang ingin melihat rumah Lengge dan kehidupan tradisional masyarakat setempat
sumber(http://rumahsolud.wordpress.com/2011/07/20/keunikan-bangunan-rumah-lengge-di-wawo/)
Tampilkan postingan dengan label 86". Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 86". Tampilkan semua postingan
29/07/11
Pasca kedatangan TNI/POLRI kunjungan wisatawan menurun
#saveBima.online :MataramNews. Pasca kedatangan ratusan aparat keamanan gabungan TNI /Polri dan Sat Pol PP NTB ke kawasan Gili Trawangan atau dikenal juga dengan sebutan pulau Sorga, beberapa hari lalu yang berdalih untuk melakukan penertiban miras, narkoba, premansime dan penertiban lahan, membuat jumlah kunjugan wisatawan menurun drastis hingga mencapai 60 persen. Kondisi itu juga mebuat para pemilik hotel dan penginapan mengalami kerugian yang segnifikan.
sumber (http://mataramnews.com/index.php?option=com_content&view=article&id=2450%3Apasca-kedatangan-tnipolri-kunjungan-wisatawan-menurun&catid=84%3Alombok-utara&Itemid=439)
Hal tersebut dikatakan, Kepala Desa Gili Indah Kecamatan Pemenang Kabupaten Lombok Utara, Haji Muhamad Taufik ditemui wartawan Kamis (28/7/11). Ia mengatakan, sejak kedatangan ratusan aparat TNI/Polri dan Sat Pol PP NTB itu sebagian besar tamu yang sedang berlibur di gili Trawangan memeperpendek masa liburannya dan pindah kedaerah lain seperti pulau Bali. “Bahkan banyak juga turis yang langsung pulang kenegara asalnya, “beber Taufik.
Kami sudah tidak mampu lagi menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di Gili Trawangan pada wisatawan yang terus bertanya, mereka semua takut dan banyak yang tidak percaya dengan alasan yang kita berikan, “katanya.
“Saya juga sangat menyayangkan ada warga saya yang berinisial JFR yang dimanfaatkan oleh oknum polisi berinisial BDI untuk memberikan laporan melalui SMS tentang kondisi Trawangan yang kondusif dan tidak ada reaksi dari wisatawan, pada hal kondisi itu berbeda dengan sebenarnya. “Silahkan lihat langsung, banyak tamu yang pergi setelah ada aparat di Trawangan, “ungkapnya.
Sukande, salah satu agen ticketing yang beroperasi di gili Trawangan juga menyatakan banyak wisatawan yang membeli tiket keluar dari Gili Trawangan. “Mereka merasa tidak nyaman dan tidak aman sehingga banyak yang beli tiket pulang dan pindah ke pulau Bali,”katanya.
Hal senada juga dikatakan Hanafi salah satu agen Fast Boat (kapal cepat-red) dari Pulau Bali ke Gili Trawangan, menurutnya hampir sebagian besar tamu yang berada di gili Trawangan bertanya dan merasa tidak nyaman dengan kedatangan aparat TNI/ Polri. “Turis terus bertanya apa sebenarnya yang terjadi di Trawangan, “tuturnya.
Sementara Kepala Dinas Perhubungan Pariwisata Komunikasi dan Informatika (Dishuparkominfo) KLU, Sinar Wugiyarno, SH juga menyayangkan dengan penempatan aparat gabungan di kawasan Gili Trawangan. “ Stabiltas memang harus tetap kita jaga tetapi ada cara-cara yang lebih halus dan lebih baik yang bisa kita terapkan sehingga tidak terkesan daerah dalam keadaan gawat, “singkatnyasumber (http://mataramnews.com/index.php?option=com_content&view=article&id=2450%3Apasca-kedatangan-tnipolri-kunjungan-wisatawan-menurun&catid=84%3Alombok-utara&Itemid=439)
14/07/11
Pesona Dan Potensi Tambora Yang Terabaikan
Kini menjelang dua abad letusannya, Tambora semakin indah dan menjadi obyek penelitian berbagai kalangan. Banyak peneliti yang melakukan study dan penelitian tentang letusan, sejarah kegunung apian, pendakian, pencarian sisa peradaban Tambora, serta berwisata alam.
Kawasan Tambora dan sekitarnya sesungguhnya menyimpan pesona dan potensi untuk dikembangkan menjadi sektor unggulan. Beberapa sektor yang memungkinkan untuk dikembangkan di kawasan ini antara lain perkebunan, peternakan, pariwisata dan perikanan. Sektor perkebunan, disamping Kopi, pengembangan tanaman Mente juga sangat memungkinkan. Sentra produksi Mente seluas 21.500 Ha dengan produksi rata-rata 13.000 Ton per tahun dan masih tersedia lahan seluas 17.000 Ha.
Disamping Mente, peternakan Sapi juga sangat potensial dikembangkan di kawasan ini karena tersedia lahan penggembalaan dan pengembangan seluas 34.000 Ha dengan total populasi Sapi sebanyak 37.000 ekor. Keindahan pulau Satonda dan wisata alam gunung Tambora yang telah masuk dalam kawasan strategis nasional sangat memungkinkan dengan rata-rata kunjungan wisatawan sebanyak 3.700 orang pada tahun 2009.
Di sektor perikanan dan keluatan, budi daya rumput laut di teluk Saleh sangat memungkinkan dengan sentra produksi rata-rata 1.200 ton per tahun dan areal pengembangan sepanjang 110 km Pantai.
Di lereng Tambora hidup masyarakat Bima dan Dompu maupun warga transmigran asal pulau Bali dan Lombok. Mereka tersebar di tiga kecamatan yaitu di kecamatan Pekat Kabupaten Dompu di sisi selatan, kecamatan Tambora di sisi barat dan Kecamatan Sanggar di sisi timur. Kecamatan Tambora dan Sanggar masuk dalam wilayah administratif kabupaten Bima.
Wilayah Tambora merupakan wilayah terluas di kabupaten Bima maupun Dompu. Namun luas wilayahnya tidaklah sebanding dengan jumlah penduduknya yang masih sedikit. Banyak lahan-lahan kosong yang dijumpai sepanjang perjalanan menuju Tambora baik melalui lingkar selatan di wilayah Kempo, maupun di lingkat utara melalui Piong menuju Labuan Kananga.
Berdasarkan sensus penduduk tahun 2010, jumlah penduduk di kecamatan Sanggar sebanyak 11.838 jiwa, di kecamatan Tambora sebanyak 6.575 Jiwa. Kecamatan Pekat Dompu dengan luas wilayah sekitar 875, 17 Km2 ( Atau 37, 65 %) dari luas Kabupaten Dompu. Kecamatan Pekat berada pada ketinggian 20 meter di atas permukaan laut. Di wilayah ini terdapat 10 desa dan 61 dusun.
Mata pencaharian warganya adalah bertani dan berladang, bnerburu, pencari madu, serta nelayan. Warga transmigran yang sudah berbaur dengan penduduk setempat memanfaatkan lahan transmigrasi itu dengan menanam berbagai jenis buah-buahan serta sayur-sayuran.
Luas Kecamatan Sanggar sekitar 72.000 Ha atau 16 porsen dari luas kabupaten Bima. Daerah ini adalah bekas kerajaan Sanggar yang pernah berjaya pada sekitar tahun 1500 sebelum letusan Tambora pada tahun 1815. Disamping dikenal sebagai daerah pegunungan dengan hasil madunya, Sangggar juga merupakan daerah pesisir dengan produksi ikan mencapai 20 ribu ton per tahun. Sedangkan nener mencapai 1 juta ekor per tahun. Untuk komoditi pertanian juga cukup besar berupa komditi padi, kedelai dan kacang tanah. Di Sanggar juga sangat cocok untuk pengembalaan ternak karena wilayah di sebelah baratnya hingga lereng Tambora terdapat padang Savana yang luas untuk pengembalaan.
Sedangkan luas wilayah kecamatan Tambora 50.500 Ha. Komoditi unggulan yang dikembangkan di wilayah ini antara lain asam, kemiri, jambu mete, kopi dan kelapa. Disamping itu, potensi peternakan di wilayah ini juga cukup besar seperti peternakan Sapi, kerbau, kuda, kambing, dan Domba.
Sudah saatnya pesona dan potensi Tambora dikembangkan dengan berbagai program multi sektor. Kehadiran KTM mudah-mudahan dapat menjawab keterbelakangan dan ketimpangan pembangunan selama ini untuk saudara-saudara kita di wilayah Tambora dan sekitarnya. Tetapi KTM tanpa perbaikan dan peningkatan status jalan lingkar selatan muapun lingkar utara Tambora sungguh tidak akan berarti. Sebab akses itu sangat dibutuhkan untuk mendorong percepatan pengembangan ekonomi di kawasan Tambora. Sarana jalan dan irigasi yang baik adalah kata kunci untuk membuka akses dan berkembangnya sektor ril di kawasan ini.
(Disadur dari: http//alanmalingi.wordpres )
05/07/11
Wagub Badrul Tinjau Pelabuhan Sape dan Langgudu
#saveBima.online Rangkaian kunjungan kerja wakil gubernur NTB Ir.H.Badrul Munir MM ke Bima, selain dihajatkan untuk menyaksikan parade/pawai festifal kuda Bima yang dihelat di Kota Bima juga dimanfaatkan untuk melihat dari dekat kegiatan pembangunan dermaga Sape dan Langgudu
Kunjungan dilakukan Senin Siang (3/7) di dermaga niaga pelabuhan Sape di Desa Bugis dan Dermaga Desa Rompo-Langgudu. Penyelesaian pembangunan dermaga niaga Rompo menyerap dana senilai Rp. 29 miliar dan dermaga niaga Sape mendapat alokasi dana Rp. 25 miliar yang bersumber dari dana APBN.
Kehadiran dermaga berstandar internasional ini menurut Wagub Badrul akan dapat meningkatkan kapasitas kegiatan bongkar muat kapal nelayan, barang dan jasa penumpang karena dimungkinkan singgahnya kapal bertonase besar.
Wagub yang didampingi Asisten Pemerintahan dan Kesra Setda Kabupaten Bima, Kepala Administratur Pelabuhan (Adpel) Bima H. Anwar, Kabag Administrasi Pembangunan Setda dalam pemaparannya menyatakan,
Salah satu kendala utama pembangunan wilayah pesisir timur Bima adalah sarana prasarana transportasi laut belum mencapai pada daerah-daerah potensial. Karena itu, "Pelabuhan Sape dan Langgudu merupakan gerbang transportasi yang langsung dapat diakses para wisatawan yang menuju Komodo dan sebaliknya.
Tidak hanya itu, ke depan beroperasinya kedua pelabuhan ini akan mempercepat arus barang dan jasa yang melalui jalur laut dan akan dapat membuka isolasi wilayah dan meningkatnya geliat pariwisata di wilayah Bima bagian timur". Tutur Wagub Badrul.
Kunjungan dilakukan Senin Siang (3/7) di dermaga niaga pelabuhan Sape di Desa Bugis dan Dermaga Desa Rompo-Langgudu. Penyelesaian pembangunan dermaga niaga Rompo menyerap dana senilai Rp. 29 miliar dan dermaga niaga Sape mendapat alokasi dana Rp. 25 miliar yang bersumber dari dana APBN.
Kehadiran dermaga berstandar internasional ini menurut Wagub Badrul akan dapat meningkatkan kapasitas kegiatan bongkar muat kapal nelayan, barang dan jasa penumpang karena dimungkinkan singgahnya kapal bertonase besar.
Wagub yang didampingi Asisten Pemerintahan dan Kesra Setda Kabupaten Bima, Kepala Administratur Pelabuhan (Adpel) Bima H. Anwar, Kabag Administrasi Pembangunan Setda dalam pemaparannya menyatakan,
Salah satu kendala utama pembangunan wilayah pesisir timur Bima adalah sarana prasarana transportasi laut belum mencapai pada daerah-daerah potensial. Karena itu, "Pelabuhan Sape dan Langgudu merupakan gerbang transportasi yang langsung dapat diakses para wisatawan yang menuju Komodo dan sebaliknya.
Tidak hanya itu, ke depan beroperasinya kedua pelabuhan ini akan mempercepat arus barang dan jasa yang melalui jalur laut dan akan dapat membuka isolasi wilayah dan meningkatnya geliat pariwisata di wilayah Bima bagian timur". Tutur Wagub Badrul.
04/07/11
Festival Kuda Bima Digelar
#saveBima_online (KM. Sarangge) Selama sepekan mulai tanggal 4 hingga 17 Juli 2011, Festival kuda Bima kembali digelar. Event tahunan ini dilaksanakan dalam rangka promosi wisata NTB menyambut Visit Lombok and Sumbawa 2012. Rangkaian kegiatan itu dihajatkan sebagai media strategis menuju destinasi utama pariwisata NTB sehingga target mendatangkan sejuta wisatawan dari dalam dan luar negeri di Propinsi NTB dapat diwujudkan.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Propinsi NTB, Faisal mengemukakan, selain untuk pengembangan kepariwisataan, Festival Kuda Bima juga berimplikasi ekonomis. Roda perekonomian masyarakat bisa menggeliat karena kuda sudah menjadi salah satu icon perekonomian dan prestise warga. Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bima, Ir. H. Ramli Hakim, M.Si mengatakan kegiatan ini dirangkaikan dengan berbagai kegiatan antara lain pawai/parade kuda dari paruga nae menuju halaman Istana Bima yang diikuti sekitar 500 kuda, Pacuan Kuda Tradisional, pameran kuliner dan asesories kuda, seminar tentang kuda Bima, serta lomba cerpen dan menggambar tentang kepariwisataan
sumber: (http://sarangge.wordpress.com/2011/07/04/festival-kuda-bima-digelar/#more-1049)
sumber: (http://sarangge.wordpress.com/2011/07/04/festival-kuda-bima-digelar/#more-1049)
30/06/11
Pariwisata NTB Incar Pasar Timteng
#saveBima.online — Nusa Tenggara Barat mengincar pasar Timur Tengah. Pemerintah Provinsi NTB untuk mempromosikan NTB gencar mengikuti berbagai sales mission, seperti berpartisipasi dalam pameran wisata di dalam negeri dan luar negeri.
"Kalau promosi ke pasar Timur Tengah (Timteng) kami pilih karena ini pasar yang terus-menerus berkembang. Apalagi potensi kita ada, cocok dengan mereka. Mereka tipikalnya family tourism," kata Gubernur NTB M Zainul Madji dalam jumpa pers terkait Lombok Sumbawa Pearl Festival di Gedung Sapta Pesona, Jakarta,
NTB, menurut Zainul, memiliki potensi wisata alam dan masyarakatnya 80 persen adalah Muslim. Kedua hal ini, lanjutnya, cocok dengan pasar Timteng. Selain itu, NTB akan memiliki bandara internasional baru pada Oktober 2011 sehingga semakin mempermudah akses ke NTB.
Apalagi, tutur Zainul, akses ke beberapa daerah di NTB juga telah dipermudah dengan adanya pesawat penerbangan lokal yang disubsidi pemerintah daerah. "Kalau Mataram, Sumbawa, dan ke Bima, itu ada penerbangannya setiap hari. Bahkan ada yang dari Bali ke Bima," katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi NTB Lalu Gita Ariadi menambahkan, alasan membidik pasar Timteng adalah supaya tidak bersaing dengan Bali. Alasan lainnya, menurut Gita, adanya kedekatan antara Timteng dan NTB, terutama sama-sama bernapaskan Islam.
"Kita tetap bidik pasar tradisional seperti negara-negara Eropa. Pasar tradisional kita dekatkan untuk MICE. Mereka, pasar tradisional ini masih mengangap Bali sebagai surga. Karena itu, kita bidik wisata MICE dan segmen pasar Timur Tengah," tuturnya.
Sarana promosi pariwisata yang dilakukan pihaknya adalah dengan mengadakan aneka festival. Festival tersebut antara lain Festival Kuda Bima. Zainul menjelaskan, keunikan festival tersebut adalah joki kecil alias anak-anak usia 6-10 tahun yang menjadi joki kuda. Ini memang merupakan tradisi budaya setempat untuk menguji keberanian para joki.
Festival lainnya adalah Festival Lakey berupa ajang surfing tingkat internasional. Pasar untuk minat khusus yaitu surfing, menurut Zainul, memang spesifik. Namun, lanjutnya, kualitas ombak NTB sangat bagus untuk surfing.
"Lalu nanti ada Festival Lombok Begendang di Mataram pada 22-24 Juli 2011. Gendang beleq adalah gendang yang sangat besar dan hanya ada di Lombok, serta dipukul pakai tangan. Ada pemilihan master gendang, yaitu lama-lamaan mukul dan mengeluarkan irama magis yang tidak sembarangan," ungkapnya.
Kemudian ada Festival Sengigi pada 14-16 Juni 2011. Serta ASEAN PGA Series VI 2011 berupa ajang golf tingkat ASEAN yang akan berlangsung pada 13-16 Oktober 2011.
Sementara itu, Zainul mengatakan, di tahun 2015 akan dilangsungkan peringatan dua abad meletusnya Gunung Tambora. "Dulu, saat Gunung Tambora meletus, efek letusannya ini mengubah peta iklim dunia. Jadi tidak hanya pariwisata, tetapi juga berhubungan dengan keilmuan," ungkapnya.
Zainul juga memaparkan angka kunjungan wisatawan asing di triwulan pertama tahun 2011, yaitu 56.000 orang. Adapun di tahun 2010 di triwulan pertama, wisman mencapai 54.000 orang.
(sumber: http://travel.kompas.com/read/2011/06/30/05183112/Pariwisata.NTB.Incar.Pasar.Timteng)
"Kalau promosi ke pasar Timur Tengah (Timteng) kami pilih karena ini pasar yang terus-menerus berkembang. Apalagi potensi kita ada, cocok dengan mereka. Mereka tipikalnya family tourism," kata Gubernur NTB M Zainul Madji dalam jumpa pers terkait Lombok Sumbawa Pearl Festival di Gedung Sapta Pesona, Jakarta,
NTB, menurut Zainul, memiliki potensi wisata alam dan masyarakatnya 80 persen adalah Muslim. Kedua hal ini, lanjutnya, cocok dengan pasar Timteng. Selain itu, NTB akan memiliki bandara internasional baru pada Oktober 2011 sehingga semakin mempermudah akses ke NTB.
Apalagi, tutur Zainul, akses ke beberapa daerah di NTB juga telah dipermudah dengan adanya pesawat penerbangan lokal yang disubsidi pemerintah daerah. "Kalau Mataram, Sumbawa, dan ke Bima, itu ada penerbangannya setiap hari. Bahkan ada yang dari Bali ke Bima," katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi NTB Lalu Gita Ariadi menambahkan, alasan membidik pasar Timteng adalah supaya tidak bersaing dengan Bali. Alasan lainnya, menurut Gita, adanya kedekatan antara Timteng dan NTB, terutama sama-sama bernapaskan Islam.
"Kita tetap bidik pasar tradisional seperti negara-negara Eropa. Pasar tradisional kita dekatkan untuk MICE. Mereka, pasar tradisional ini masih mengangap Bali sebagai surga. Karena itu, kita bidik wisata MICE dan segmen pasar Timur Tengah," tuturnya.
Sarana promosi pariwisata yang dilakukan pihaknya adalah dengan mengadakan aneka festival. Festival tersebut antara lain Festival Kuda Bima. Zainul menjelaskan, keunikan festival tersebut adalah joki kecil alias anak-anak usia 6-10 tahun yang menjadi joki kuda. Ini memang merupakan tradisi budaya setempat untuk menguji keberanian para joki.
Festival lainnya adalah Festival Lakey berupa ajang surfing tingkat internasional. Pasar untuk minat khusus yaitu surfing, menurut Zainul, memang spesifik. Namun, lanjutnya, kualitas ombak NTB sangat bagus untuk surfing.
"Lalu nanti ada Festival Lombok Begendang di Mataram pada 22-24 Juli 2011. Gendang beleq adalah gendang yang sangat besar dan hanya ada di Lombok, serta dipukul pakai tangan. Ada pemilihan master gendang, yaitu lama-lamaan mukul dan mengeluarkan irama magis yang tidak sembarangan," ungkapnya.
Kemudian ada Festival Sengigi pada 14-16 Juni 2011. Serta ASEAN PGA Series VI 2011 berupa ajang golf tingkat ASEAN yang akan berlangsung pada 13-16 Oktober 2011.
Sementara itu, Zainul mengatakan, di tahun 2015 akan dilangsungkan peringatan dua abad meletusnya Gunung Tambora. "Dulu, saat Gunung Tambora meletus, efek letusannya ini mengubah peta iklim dunia. Jadi tidak hanya pariwisata, tetapi juga berhubungan dengan keilmuan," ungkapnya.
Zainul juga memaparkan angka kunjungan wisatawan asing di triwulan pertama tahun 2011, yaitu 56.000 orang. Adapun di tahun 2010 di triwulan pertama, wisman mencapai 54.000 orang.
(sumber: http://travel.kompas.com/read/2011/06/30/05183112/Pariwisata.NTB.Incar.Pasar.Timteng)
Disbudpar NTB Gelar Festival Kuda Bima Kedua
“Selain itu, kuda sangat bermanfaat bagi alat transportasi dan alat pertahanan wilayah kerajaan Bima yang disebut Suba Jara atau pasukan berkuda,” kata L. Gita Ariadi, kepada Reporter Global FM Lombok, di ruang kerjanya, Kamis (30/6).
Gita menegaskan, Festival Kuda Bima ini akan menjadikan kuda sebagai icon Bima, yakni ingat kuda, ingat bima dan ingat bima, ingat kuda. Bagi masyarakat Bima, memiliki kuda merupakan sebuah kebanggaan tersendiri. Sebab, sebagian besar pejabat, pengusaha dan tokoh-tokoh terpandang di kabupaten/kota Bima memiliki kuda pacuan.
Selain itu, pelaksanaan pacoa jara diadakan di Tarena Jara atau latihan rutin setiap kamis dan minggu di lapangan Pacoa Jara Kabupaten Bima. Pacoa jara merupakan adu kecepatan kuda dengan joki cilik sebanyak 6 ekor kuda yang diatur berdasarkan kelas yang ditetapkan, sehingga tampil ataraktif dan menarik.
Berbagai event sebut Gita, akan digelar, seperti Parade 500 kuda hias beserta joki dan penuntun serta pasukan kavelari, bursa atau pameran serba kuda, seminar tentang kuda, pacoa jara, pacuan benhur, lomba lukis kuda dan lomba cerpen kuda. Festival yang diperkirakan menelan biaya Rp 1,1 miliar dari sharing Kementerian Budpar, Pemprov NTB, Kabupaten dan Kota Bima itu, akan memberikan hadiah menarik bagi para pemenang.
“Beberapa diantaranya, 60 ekor sapi, 19 unit motor, 30 unit TV, 20 HP, uang tunai dan lainnya. Digelarnya Festival Kuda Bima ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat peternakan. Selain itu, sebagai wahana promosi pariwisata dalam meningkatkan kunjungan wisatawan ke NTB,” harapnya.
sumber:koran lombok.
Langganan:
Postingan (Atom)


