Tampilkan postingan dengan label 86. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 86. Tampilkan semua postingan
05/08/11
foto masyarakat bima ketika melakukan tenun
#saveBima.online_ Tembe ngoli merupakan Sarung khas masyarakat Bima pada umumnya, karena tembe ngoli mempunyai ciri khas dari pemakaiannya maupun cara pembuatannya. Tidak ada yang isitimewa dari pembuatan tembe ngoli, alat (tenunan) untuk Produksinyapun masih sama seperti Lombok dan Sumbawa. Akan tetapi mempunyai nilai budaya yang sangat tinggi dan mengakar pada Generasi penerus pembuat Tembe Ngoli (sarung khas Bima).(rumahsolud.wordpress.com)
keris, benda pusaka Bima yang hilang.!
#saveBima.online_7 diantara Keris Pusaka Dana Mbojo diatas Raib entah kemana..... 2 diantaranya ada di Jakrta. 2 lagi ditemukan di Prancis, 1 keris diketahui berada di Belanda (info 3 bulan yg lalu). 2 keris yg lain tidak diketahui rimbanya. Keris2 tersebut diatas merupakan Keris yg biasa dipakai oleh para Jeneli pada masa Kesultanan. Jika di Uang-kan, maka, 7 keris yg hilang diperkirakan berharga Rp 22 Miliar.
29/07/11
Kekuasaan Majapahit di Bima pada Era Raja Indra Zambrud
Dalam posisi berada di bawah naungan Kerajaan besar seperti Majapahit, jadi Kerajaan Bima harus menyetor Upeti kepada Majapahit.karna pada catatan Odorico da Pordenone, biarawan Katolik Roma dari Italia yang mengunjungi Jawa pada tahun 1321, menyebutkan bahwa istana raja Jawa penuh dengan perhiasan emas, perak, dan permata. Upeti yang di terima dari kerajaan-kerajaan taklukan Majapahit akan dikumpulkan di Majapahit.
Stabilitas Ekonomi Kerajaan Bima Pada saat itu kerajaan Bima sangat berkembang pesat di segi pertanian maupun peternakan dan perikanan, Kerajaan Bima banyak belajar dan mengadaptasi ilmu dari kerajaan Majapahit dan itu bisa terlihat dari seni ukiran yang terdapat di setiap keris atau senjata khas Kerajaan Bima yang sangat mirip dengan Kerajaan Majapahit (Ukiran dan kerajinan Jawa,sangat kental di Keris Bima), Raja Indra Zamrud sangat memperhatikan keadaan Ekonomi Kerajaan pada waktu itu sehingga Raja mengembangkan bidang Pertanian dan perikanan, masyarakat Bima pada saat itu banyak yang bercocok tanam dengan di bantu oleh adik sang Raja Indra Kumala yang sekaligus ahli di bidang Pertanian, dengan adanya bukti di Museum Gajah Jakarta yaitu berupa Tungku kuno yang diatasnya berjejer ukiran dan miniatur kodok yang ditemukan di Bima merupakan alat ritual masyarakat bima pada saat itu untuk meminta hujan.
Di bidang peternakan Kerajaan Bima juga tidak mau kalah dengan kerajaan lain, Raja Indra Zambrud juga mengembangkan bidang peternakan yaitu Kuda,Kerbau,dan Sapi. karna banyaknya ditemukan Catatan-catatan para pelaut yang singgah di pelabuhan laut kerajaan Bima pada saat itu. Bima menjadi sebuah keraajan yang berkembang pesat pada saat itu, apalagi Kerajaan Bima merupakan salah satu kerajaan yang didirikan oleh Majapahit, sehingga Kerajaan Bima menjadi Wilayah Transit para pelaut yang akan menuju ke timur. Siti Maryam mengisahkan, “ ini diperkirakan terjadi abad 14. Tapi kemudian diperbarui karena di Kitab Negarakertagama, Kerajaan Bima disebut sudah memiliki pelabuhan besar pada 1365. Ini cocok dengan kisah di Bo Sangaji Kai. Jadi, kemungkinan Kerajaan Bima dimulai pada 1340.”
Dan di tambah catatan para pelaut yang singgah di pelabuhan Bima pada saat itu yaitu Wang Ta-yuan, pedagang Tiongkok,menceritakan “Pelabuhan Bima sangat ramai dengan perdagangan garam,burung kakak tua,kuda.dan perdagangan Budak-budak yang besar dan kuat”.
Perluasan Kerajaan Bima
Pada suatu masa, ada keturunan Indra Zamrud yang memiliki 30 anak, dua puluh lelaki dan sepuluh perempuan. Anak lelakinya dijadikan raja di beberapa daerah Sumbawa, antara lain di Dompu, Bima, dan Sumbawa. Sehingga banyak terdapat kerajaan-kerajaan di pulau Sumbawa seperti kerajaan Pekat,Kerajaan Sanggar,Kerajaan Dompo (Dompu),Kerajaan Sanghyang (Gunung sanghyang),dan Kerajaan Sumbawa. Pada saat itu penduduk Kerajaan bima mencapai 100.000 ± jiwa se pulau Sumbawa sebelum terjadi letusan gunung Tambora tahun 1815 yang memakan korban 71.000 jiwa. Sehingga banyak terjadi perpindahan penduduk yang merata sepulau Sumbawa tersebut.(86)
sumber(http://networkedblogs.com/jCOtK)
Saksi Bisu Sejarah Islam Di Bima
#saveBima.online. Mesjid yang berdiri kokoh tersembunyi di dalam pemukiman warga di Melayu Kel. Melayu – Asakota itu merupakan saksi Bisu sejarah masuknya Islam di Tanah Bima
, Dan Mesjid itu juga adalah Mesjid yang pertama di bangun di Bima. Mesjid itu dikenal orang dengan sebutan Langgar Kuno yang dibangun pada tahun 1608 Masehi, didirikan oleh Syekh Datuk Di Banta dan Syekh Datuk Di Tiro, kedua Ulama ini berasal dari tanah Sumatra yang menyebarkan Agama Islam di wilayah Nusantara Timur. Kedua Ulama tersebut datang ke Bima melalui pelayaran laut bersama Sultan Bima yang pertama Sultan Abdul Kahir.Sultan Abdul Kahir bertemu dengan Syekh Datuk Di Banta dan Datuk Di Tiro di kesultanan Goa, pada saat Sultan Abdul Kahir di Asingkan dari Tanah Bima, dan memeluk Agama Islam di Tanah Goa. Setibanya di Bima, dan mengambil alih lagi kerajaannya dan merubah menjadi kesultanan. Kemudian Syekh Di Banta Dan Syek Di Tiro kemudian tinggal dimana Melayu daerah Pesisir Kesultanan Bima, dan mereka berdua membangun Langgar Kuno atau Mesjid Pertama di Bima. Mesjid itu merupakan Saksi Bisu sejarah perkembangan Islam di Tanah Mbojo tersebut. Bentuk dan arsitektur Mesjid tersebut sangat kental dengan Arsitektur Bugis dan Sumatra. Bahan – bahannya dari kayu beratapkan genteng – genteng cdan masih terawat dan terjaga dengan baik. Hingga saat ini Mesjid tersebut di gunakan warga setempat sebagai Taman Pembacaan Al-Qur`an Anak – anak (TPA).
sumber (http://networkedblogs.com/jCOtK)
28/06/11
Ketrampilan yang dimiliki oleh para pengrajin, diperoleh dari warisan leluhur, tanpa melalui pendidikan formal. Bermodalkan ketrampilan yanng dimiliki, mereka mampu membuat berbagai jenis barang, walau dengan peralatan yang sederhana. Bahan baku yang dibutuhkan, mudah diperoleh disekitar lingkungannya, antara lain Tumbuh-tumbuhan, Logam, Batu-batuan, tulang dan Kulit hewan dan sebagainya.
Kerajinan tradisional Mbojo kaya dengan jenis dan bentuknya. Bukan hanya tahan lama dan kuat, tetapi juga mengandung nilai seni budaya yang tinggi. Karena itu kerajinan tradisonal Mbojo harus dilestarikan oleh Pemerintah dan Masyarakat. Kalau usaha pelestarian dan pengembangan itu tidak segera dilaksanakan secara sungguh-sungguh, maka dikhawatirkan dalam waktu yang tidak lama, kerajinan tradisional Mbojo, akan dilupakan oleh masyarakat pemiliknya. Kekhawatiran itu cukup beralasan, melihat adanya kecenderungan masyarakat yang menganggap bahwa hasil kerajinan tradisional Mbojo, selain tidak bermutu juga sudah gersang dengan nilai seni.
Saya tertarik ketika menonton salah satu acara yang di tayangkan oleh tv swasta .Dalam rangkaian acara itu, seorang ibu warga Bima mengenakan sebuah penutup kepala dari anyaman daun pandan yang menutupi kepala dan sebagian tubuhnya. Orang-orang suku Bima menyebutnya dengan Lupe. Lupe berbentuk lonjong, menutupi kepala dan badan yang berfungsi sebagai topi/payung sekaligus Jas Hujan. Yah, bisa dikatakan bahwa Lupe adalah Jas Hujan Tradisional masyarakat Mbojo tempo dulu terutama di beberapa wilaya di bima. Daun pandan gunung, berdaun lebar lagi panjang, seratnya kuat tidak mudah robek. Lupe sangat cocok bagi petani peternak atau pengembala yang sedang bekerja di sawah ladang dan padang nan luas.
Pada umumnya anyaman yang bahan bakunya Daun Pandan (Bima : Ro’o Fanda), hasil anyaman pengrajin dari bima ini. Tetapi ada juga yang dianyam oleh masyarakat Mbojo yang bertempat tinggal di daerah dataran tinggi, seperti Desa Lela Mase (Kec. Rasanae Timur), dan beberapa desa di Kecamatan Wawo Kabupaten Bima. Pohon pandan dalam berbagai jenis bisa tumbuh subur di daerah Bima dan Dompu. Sebab itu persediaan bahan baku untuk anyaman daun pandan tidak ada masalah.
Cara membuat Lupe tidaklah terlalu sulit bagi masyarakat Mbojo terutama masyarakat Sambori dan Sekitarnya. Daun Pandan yang telah diambil dari pohonnya dikeringkan lebih dulu, kemudian dianyam. Cara menganyamnya yaitu dengan menyilang daun pandan yang satu dengan daun pandan yang lainnya, dan hampir sama dengan mengayanyam Tikar Pandan atau Dipi Fanda. Yang membedakakanya adalah finishing dari Lupe yang menyerupai Topi atau payung. Dibutuhkan waktu satu hari untuk menganyam Lupe sampai menghasilkan anyaman Lupe yang siap untuk dikenakan terutama untuk melindungi diri dari hujan dan terik matarahari.
Lupe sangat unik. Ini adalah sebuah warisan leluhur masyarakat Mbojo yang perlu dilestarikan keberadaanya. Jika masyarakat bima betul-betul dikembangkan sebagai desa adat, maka Lupe dan komoditi lainnya dari berbagai budaya dan kesenian bima, sangat berpotensi sebagai salah satu souvenir atau oleh-oleh buat wisatawan yang berkunjung. Hal ini tentunya akan menggairahkan para pengrajin di wilayah tertentu untuk memproduksi lupe dan kerajinan ketrampilan lainnya untuk menopang perekonomian mereka. Semoga……!
(www.alanmalingi.wordpress.com)
Langganan:
Postingan (Atom)


