01/08/11
29/07/11
Kekuasaan Majapahit di Bima pada Era Raja Indra Zambrud
Dalam posisi berada di bawah naungan Kerajaan besar seperti Majapahit, jadi Kerajaan Bima harus menyetor Upeti kepada Majapahit.karna pada catatan Odorico da Pordenone, biarawan Katolik Roma dari Italia yang mengunjungi Jawa pada tahun 1321, menyebutkan bahwa istana raja Jawa penuh dengan perhiasan emas, perak, dan permata. Upeti yang di terima dari kerajaan-kerajaan taklukan Majapahit akan dikumpulkan di Majapahit.
Stabilitas Ekonomi Kerajaan Bima Pada saat itu kerajaan Bima sangat berkembang pesat di segi pertanian maupun peternakan dan perikanan, Kerajaan Bima banyak belajar dan mengadaptasi ilmu dari kerajaan Majapahit dan itu bisa terlihat dari seni ukiran yang terdapat di setiap keris atau senjata khas Kerajaan Bima yang sangat mirip dengan Kerajaan Majapahit (Ukiran dan kerajinan Jawa,sangat kental di Keris Bima), Raja Indra Zamrud sangat memperhatikan keadaan Ekonomi Kerajaan pada waktu itu sehingga Raja mengembangkan bidang Pertanian dan perikanan, masyarakat Bima pada saat itu banyak yang bercocok tanam dengan di bantu oleh adik sang Raja Indra Kumala yang sekaligus ahli di bidang Pertanian, dengan adanya bukti di Museum Gajah Jakarta yaitu berupa Tungku kuno yang diatasnya berjejer ukiran dan miniatur kodok yang ditemukan di Bima merupakan alat ritual masyarakat bima pada saat itu untuk meminta hujan.
Di bidang peternakan Kerajaan Bima juga tidak mau kalah dengan kerajaan lain, Raja Indra Zambrud juga mengembangkan bidang peternakan yaitu Kuda,Kerbau,dan Sapi. karna banyaknya ditemukan Catatan-catatan para pelaut yang singgah di pelabuhan laut kerajaan Bima pada saat itu. Bima menjadi sebuah keraajan yang berkembang pesat pada saat itu, apalagi Kerajaan Bima merupakan salah satu kerajaan yang didirikan oleh Majapahit, sehingga Kerajaan Bima menjadi Wilayah Transit para pelaut yang akan menuju ke timur. Siti Maryam mengisahkan, “ ini diperkirakan terjadi abad 14. Tapi kemudian diperbarui karena di Kitab Negarakertagama, Kerajaan Bima disebut sudah memiliki pelabuhan besar pada 1365. Ini cocok dengan kisah di Bo Sangaji Kai. Jadi, kemungkinan Kerajaan Bima dimulai pada 1340.”
Dan di tambah catatan para pelaut yang singgah di pelabuhan Bima pada saat itu yaitu Wang Ta-yuan, pedagang Tiongkok,menceritakan “Pelabuhan Bima sangat ramai dengan perdagangan garam,burung kakak tua,kuda.dan perdagangan Budak-budak yang besar dan kuat”.
Perluasan Kerajaan Bima
Pada suatu masa, ada keturunan Indra Zamrud yang memiliki 30 anak, dua puluh lelaki dan sepuluh perempuan. Anak lelakinya dijadikan raja di beberapa daerah Sumbawa, antara lain di Dompu, Bima, dan Sumbawa. Sehingga banyak terdapat kerajaan-kerajaan di pulau Sumbawa seperti kerajaan Pekat,Kerajaan Sanggar,Kerajaan Dompo (Dompu),Kerajaan Sanghyang (Gunung sanghyang),dan Kerajaan Sumbawa. Pada saat itu penduduk Kerajaan bima mencapai 100.000 ± jiwa se pulau Sumbawa sebelum terjadi letusan gunung Tambora tahun 1815 yang memakan korban 71.000 jiwa. Sehingga banyak terjadi perpindahan penduduk yang merata sepulau Sumbawa tersebut.(86)
sumber(http://networkedblogs.com/jCOtK)
Saksi Bisu Sejarah Islam Di Bima
#saveBima.online. Mesjid yang berdiri kokoh tersembunyi di dalam pemukiman warga di Melayu Kel. Melayu – Asakota itu merupakan saksi Bisu sejarah masuknya Islam di Tanah Bima
, Dan Mesjid itu juga adalah Mesjid yang pertama di bangun di Bima. Mesjid itu dikenal orang dengan sebutan Langgar Kuno yang dibangun pada tahun 1608 Masehi, didirikan oleh Syekh Datuk Di Banta dan Syekh Datuk Di Tiro, kedua Ulama ini berasal dari tanah Sumatra yang menyebarkan Agama Islam di wilayah Nusantara Timur. Kedua Ulama tersebut datang ke Bima melalui pelayaran laut bersama Sultan Bima yang pertama Sultan Abdul Kahir.Sultan Abdul Kahir bertemu dengan Syekh Datuk Di Banta dan Datuk Di Tiro di kesultanan Goa, pada saat Sultan Abdul Kahir di Asingkan dari Tanah Bima, dan memeluk Agama Islam di Tanah Goa. Setibanya di Bima, dan mengambil alih lagi kerajaannya dan merubah menjadi kesultanan. Kemudian Syekh Di Banta Dan Syek Di Tiro kemudian tinggal dimana Melayu daerah Pesisir Kesultanan Bima, dan mereka berdua membangun Langgar Kuno atau Mesjid Pertama di Bima. Mesjid itu merupakan Saksi Bisu sejarah perkembangan Islam di Tanah Mbojo tersebut. Bentuk dan arsitektur Mesjid tersebut sangat kental dengan Arsitektur Bugis dan Sumatra. Bahan – bahannya dari kayu beratapkan genteng – genteng cdan masih terawat dan terjaga dengan baik. Hingga saat ini Mesjid tersebut di gunakan warga setempat sebagai Taman Pembacaan Al-Qur`an Anak – anak (TPA).
sumber (http://networkedblogs.com/jCOtK)
Keunikan Rumah Lengge Di Wawo
#saveBima_online Wawo, dari kejauhan tampak sebuah gubuk yang meruncing segitiga yang terlihat banyak yang atapnya terbuat dari jerami, itulah Rumah Lengge, rumah tradisional masyarakat Wawo yang mempunyai gaya arsitek yang unik , dengan bahan bangunannya kayu dan bambu beratapkan jerami. Dan Rumah Lengge merupakan rumah asli Pribumi suku Mbojo (Bima).
Ternyata rumah Lengge ini berdiri diatas batu kali sebagai dasar rumah, yg hanya empat kaki tanpa semen, rumah lengge ini hanya memakai paku yang terbuat dari kayu dan yang lebih menarik lagi untuk mengikat bambunya tali yang terbuat dari kulit pohon. Rumah Lengge ini juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan padi di atasnya dan ruang tidur dibawah yang mirip saung yang berukuran atau luasnya hanya 8×4 meter.
Rumah Lengge ini ternyata juga rumah anti tikus, dimana tikus maupun kucing tidak dapat masuk dirumah Lengge karena dasar batu rumah dan tiang-tiangnya mempunyai siku yang berbentul huruf L sehingga tikus maupun binatang merayap lainya susah untuk masuk kerumah Lengge.
Masyarakat di desa Wawo saat sekarang masih menggunakan rumah Lengge sebagai tempat penyimpanan Padi ataupun hasil pertanian mereka. Di Wawo tepatnya di Desa Maria masih berjejer rumah Lengge dan Jompa (rumah yang serupa dengan Lengge), dan dijadikan tempat untuk kunjungan wisatawan yang ingin melihat rumah Lengge dan kehidupan tradisional masyarakat setempat
sumber(http://rumahsolud.wordpress.com/2011/07/20/keunikan-bangunan-rumah-lengge-di-wawo/)
Ternyata rumah Lengge ini berdiri diatas batu kali sebagai dasar rumah, yg hanya empat kaki tanpa semen, rumah lengge ini hanya memakai paku yang terbuat dari kayu dan yang lebih menarik lagi untuk mengikat bambunya tali yang terbuat dari kulit pohon. Rumah Lengge ini juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan padi di atasnya dan ruang tidur dibawah yang mirip saung yang berukuran atau luasnya hanya 8×4 meter.
Rumah Lengge ini ternyata juga rumah anti tikus, dimana tikus maupun kucing tidak dapat masuk dirumah Lengge karena dasar batu rumah dan tiang-tiangnya mempunyai siku yang berbentul huruf L sehingga tikus maupun binatang merayap lainya susah untuk masuk kerumah Lengge.
Masyarakat di desa Wawo saat sekarang masih menggunakan rumah Lengge sebagai tempat penyimpanan Padi ataupun hasil pertanian mereka. Di Wawo tepatnya di Desa Maria masih berjejer rumah Lengge dan Jompa (rumah yang serupa dengan Lengge), dan dijadikan tempat untuk kunjungan wisatawan yang ingin melihat rumah Lengge dan kehidupan tradisional masyarakat setempat
sumber(http://rumahsolud.wordpress.com/2011/07/20/keunikan-bangunan-rumah-lengge-di-wawo/)
Langganan:
Postingan (Atom)
kami segenap #saveBima mengucapkan selamat menjalankan Ibadah Puasa.! bagi teman teman yang menjalankan !! marhaban yaa ramadhan.!! segala khilaf, baik yang di sengaja maupun tidak mohon di maafkan.!! 