25/09/12

FOKKA siap untuk memiliki akta Notaris

Alhamdullillah inilah Akte Notaris pendirian FORUM KOMUNIKASI KASABUA ADE-FOKKA yg selanjutnya akan di daftarkan dan di sah oleh Depdagri sebagai salah satu organisasi kominitas Bima-Dompu Jabodetabek telah rampung "kata Zul Bambang dalam facebooknya. 

FOKKA ( Forum Komunikasi Kasabua Ade ) ini memang didirikan untuk "kasabua Ade" kalau dalam bahasa Indonesianya Menyatukan Hati. 

NTB Minta Dukungan Peringatan 2 Abad Meletusnya gunung merapi tambora




Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat meminta dukungan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, untuk memperlancar peringatan dua abad meletusnya Gunung Berapi Tambora, di Pulau Sumbawa, yang diagendakan pada April 2015.

Foto Pada saat Pagelaran Seni dan Budaya Dana Mbojo Bima NTB

Foto Foto Pada saat Pagelaran Seni dan Budaya Dana Mbojo Yang di adakan di anjungan NTB Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta Pada tanggal 15 september 2012 lalu.
wanita Bima sedang Melakukan Peragaan Muna Tembe Nggoli

Mr Rao, Duta Besar UNESCO tertarik mendftarkan budaya Bima ke UNESCO


Mr Rao, Duta Besar UNESCO, ketika pengukuhan SUBAK (sistem pengairan di Bali) menjadi Warisan Dunia oleh UNESCO, tanggal 24 September 2012 di Puri Taman Ayun, Kab. Badung Prov Bali.
Tahun depan adalah KAIN FLORES

BIMA KAPAN ? 
proses ini berjalan hampir sepuluh tahun, jika kita mau...
perbincangan singkat saya dengan Mr. Rao
" Saya dari Bima, bagaimana caranya saya bisa mendftarkan budaya, alam ddl ke UNESCO, karena kami memiliki "Tambora, Muna Tembe Nggoli, Pulau Moyo, Satonda, Wadu Pa'a, Ncuhi, Makam Gaja Mada, Pantai Lakey, buah Kinca, Silu, Sarone, Uma Lengge, Joki kecil, Pacoa"

23/02/12

Pesta ponan dan Gerakan 10.000 Batu Untuk Jalan Ponan

Pesta Adat Ponan menjadi agenda tahunan bagi masyarakat adat di dusun Poto, Lengas dan Malili Kecamatan Moyo Hilir. Tahun ini, kegiatan pesta ponan juga dilaksanakan dengan warna yang sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Dimulai dengan pentas budaya ponan yang menampilkan berbagai sanggar seni dari beberapa kecamatan dan menampilkan kesenian

Mempertahankan Rumah Adat di Bima

KORNELIS KEWA AMA
Jamaludin Ismael 


SEBUAH rumah panggung beratapkan alang-alang dengan ketinggian tiang kayu sekitar 2 meter berdiri kokoh di atas bukit di tengah Desa Mbawa, Kecamatan Donggo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Rumah adat yang disebut Ncuhi itu satu-satunya yang tersisa di Bima. Di rumah ini diselenggarakan sejumlah ritual adat untuk memohon pertolongan leluhur.

ASAL USUL ISTILAH INDONESIA


Mengutip hasil penelusuran Andreas Harsono dalam blognya berjudul “Sebuah Kuburan, Sebuah Nama” yang terpost 01 Desember 2008, kata Indonesia pertama kali dibuat pada 1850 –mulanya dalam bentuk “indunesians”-- oleh George Samuel Windsor Earl. Earl sedang mencari-cari terminologi etnografis untuk menerangkan “ …that branch of the Polynesian race inhabiting the Indian Archipelago” atau “the brown races of the Indian Archipelago.” Namun, walau sudah menggabungkan dua kata itu, masing-masing dari kata "Indu" atau "Hindu" dengan kata "nesos" atau "pulau" dari bahasa Yunani, Earl menolaknya sendiri. Dia menganggap kata "Indunesia" terlalu umum. Earl menawarkan terminologi lain, yang dinilainya lebih jelas, "Malayunesians."

Para pendatang Tamil atau Kerala dari waktu tiu British India, ketika tiba di Pulau Penang mengikuti Francis Light sang pendiri Koloni Penang, menyebut orang-orang lokal, yang tinggal di sekitar gunung, sebagai "Malayan" alias “orang gunung”. Malayan lantas berubah jadi Malay dan Melayu.

Liputan6.tv :: Warga Bima Gelar Hanta Ua Pua ::

Warga Bima, NTB, menggelar tradisi "Hanta Ua Pua" atau mengangkat mahligai rumah yang dinaiki Penghulu Melayu atau Ulama Bima. Tradisi itu mencoba mengilas balik masuknya agama Islam ke NTB.

Liputan6.tv :: Warga Bima Gelar Hanta Ua Pua ::

14/01/12

pacoa jara

Seorang bocah memacu kudanya di pinggir laut Kota Bima, Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Kota Bima memiliki festival Kuda yang sudah menjadi agenda tahunan Pemerintah Provinsi NTB. Kuda memang dijadikan ikon pariwisata kota ini. Gubernur KH. Zainul Mazdi pernah mengucapkan slogan, "Ingat kuda, ingat Bima. Ingat Bima, ingat kuda.

12/01/12

Keluhan Tentang Rinjani


Keluhan tentang Rinjani sering di keluarkan oleh pendaki asing yang mendaki gunung dengan ketinggian 3.726 mdpl itu di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Mereka pada umumnya merasa kurang nyaman karena sampah plastik yang tersebar di seputar Danau Segara Anak, kaldera gunung Rinjani, dimana mereka biasanya beristirahat dan menginap. Selain itu juga dikeluhkan dengan banyaknya anjing yang berkeliaran di kawasan itu.

10/01/12

KERAJAAN BIMA Dalam Sastra dan Sejarah

Silsilah Para raja, Sang Bima dalam Mitologi I Lagaligo

Tulisan ini saya muat dalam group Bima Tanahku dan saya muat kembali disini agar bisa terakses lebih luas oleh siapapun yang ingin membacanya.
Membaca beberapa Notes di group ini yaitu:
dua buah artikel tentang perjalanan sejarah Dana Mbojo ada jaman lampau. tulisan itu bercerita tentang asal usul Generasi raja-raja Bima yang dimulai dari kedatangan Sang Bima dst yang dikatakan berkaitan erat dengan pasang surutnya kerajaan majapahit.

Obyek Wisata Andalan Bima _NTB


Penetapan Pulau Lombok dan Sumbawa sebagai tujuan utama pariwisata oleh pemerintah pusat menunjukkan penghargaan dan apresiasi yang cukup besar bagi tumbuh dan berkembangnya sektor pariwisata sebagai tulang punggung perekonomian di provinsi NTB.

Untuk mendukung upaya ini, Minggu (27/12) Wakil Gubernur Ir. H. Badrul Munir didampingi Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Provinsi NTB H.M. Nur, SH, MH bersama 28 orang rombongan yang terdiri dari staf ahli dan pewarta media cetak dan TV swasta nasional secara khusus melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Bima dengan dua agenda utama yaitu Sosialisasi Visit Lombok Sumbawa 2012 di Ruangan VIP Bandara dan penutupan kejuaraan pacuan kuda tradisional dalam rangka HUT NTB ke-51 di gelanggang pacuan kuda Desa Panda-Palibelo.

Penetapan ini tentu saja memberikan harapan cerah bagi berkembangnya sektor pariwisata dan budaya. Hal ini disebabkan keberagaman etnis yang hidup berdampingan dan pesona alam yang eksotik di pulau Lombok dan Sumbawa merupakan  aset pariwisata yang cukup menarik minat wisatawan baik domestik maupun mancanegara yang perlu kita jaga kelestariannya.

Bupati Bima H. Ferry Zulkarnain, ST dalam pemaparannya menggambarkan potensi pariwisata, seni dan budaya kerajaan Bima yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Potensi situs sejarah museum Asi mbojo yang masih berdiri kokoh sebagai lambang yang menjadi saksi pasang surut sejarah Bima menurut Bupati menyimpan koleksi berupa bukti kejayaan kesultanan dan koleksi seni. Disamping itu, Bima memiliki keunikan adat istiadat masyarakat yang bermukim di wilayah pegunungan dan masih bertahan dengan tradisi seperti masyarakat kecamatan Donggo dan Lambitu.

“Wisata bahari juga memiliki potensi luar biasa yang perlu sentuhan untuk dikembangkan baik melalui event pelayaran menggunakan perahu tradisional yang melewati rute pesisir Tambora, Satonda, Gunung Sangeang hingga kawasan laut gilibanta yang memiliki terumbu karang dan biota laut yang sangat bagus. Untuk melestarikan kawasan Gilibanta ini, Pemerintah  Daerah melalui Dinas Kelautan dan Perikanan secara konsisten melakukan pemeliharaan dan pengawasan ekosistem terumbu karang ini”. Urai Bupati

Sejalan dengan upaya ini, untuk kepentingan wisata domestik, pembenahan secara bertahap juga dilakukan pada obyek wisata Pantai Kalaki. ”Mudah-mudahan keberadaan museum Asi Mbojo dan upacara adat Hanta Ua Pua yang penyelenggaraannya dalam rangkaian perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai agenda tahunan pemerintah dan masyarakat Kabupaten Bima diharapkan akan dapat dipromosikan sebagai obyek wisata andalan dalam agenda Visit Lombok Sumbawa ini”. Ungkap Bupati.
  #86


sumber:http://mbojonet.blogspot.com/2012/01/obyek-wisata-andalan-bima-mbojo.html?utm_source=dlvr.it&utm_medium=twitter 

30/12/11

Hatta Rajasa: Bupati Bima Bisa Cabut SK tentang Izin Pertambangan

Bupati Bima Ferry Zulkarnain menerbitkan SK Nomor 188 Tahun 2010 tentang Izin Pertambangan. SK inilah yang kemudian menyulut demontrasi bahkan berakhir ricuh di pelabuhan Sape, Bima beberapa waktu lalu.

Warga dan mahasiswa mendesak Bupati segera Bima segera mencabut SK tersebut. Menurut Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Bupati Bima bisa langsung mencabut SK yang sudah diterbitkannya tanpa harus menunggu keputusan pemerintah pusat.

"Yang mengeluarkan Bupati kok, dia harus mencabut. Kalau mau dicabut ya yang mengeluarkan yang mencabut, tidak ada aturan yang mengatakan pemerintah pusat mencabut itu," ujar Hatta di kantor Presiden Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Jumat (30/12/2011).

Menurut Hatta, Bupati Bima Feey Zulkarnain tidak boleh lepas tangan atas SK yang telah ia terbitkan yang menuai kontra tersebut. Saat mengeluarkan SK, Ferry selaku kepada daerah juga tidak pernah meminta persetujuan dari pemerintah pusat.

"Tidak boleh lepas tangan (Bupati Bima), harus dihandle. Dari mana pemerintah pusat berwenang mencabut. Ketika dia memberikan itu kan tidak meminta pertimbangan pemerintah pusat kan," terang Hatta.

Ke depan, ketua umum PAN ini berharap para kepala daerah untuk melakukan koordinasi terlebih dahulu bila terkait kebijakan yang strategis. Sehingga karut marut seperti SK Bupati Bima tidak perlu terjadi.

"Intinya lebih baik kalau sesuatu itu dikoordinasikan, gubernur ada koordinasi, tanpa harus menghilangkan esensi dari otonomi itu sendiri. Tapi yang namanya kekayaan sumber daya alam, pengalaman menunjukkan ada 6 ribu surat ijin yang bermasalah, tumpang tindih, itu menunjukkan bahwa fungsi koordinasi semakin perlu," jelas Hatta.
(sumber http://www.detiknews.com/read/2011/12/30/150557/1803224/10/hatta-rajasa-bupati-bima-bisa-cabut-sk-tentang-izin-pertambangan )

29/12/11

Warga Tolak Tambang demi Situs Temba Romba

Warga Tolak Tambang demi Situs Temba Romba

Warga Desa Rato, Kecamatan Lambu, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, menolak tambang emas demi menjaga Temba Romba, situs bersejarah di desa mereka, Rabu (28/12/2011).

Desa Rato bertetangga dengan Desa Sumi, yang warganya juga menolak keras kegiatan eksplorasi tambang emas oleh PT Sumber Mineral Nusantara. Wilayah eksplorasi perusahaan itu sekitar 24.000 hektar.

Menurut M Yasin Achmad, warga Rato, Temba Romba merupakan sumur kuno dengan air yang jernih dikelilingi batu persegi. Masyarakat setempat meyakini sumur kuno itu sudah ada sejak dulu dan disakralkan.

"Sumur ini sudah terkenal sampai luar negeri, dan sumur ini juga menjadi aset wisata Kabupaten Bima. Sejak saya kecil sampai saat ini, sumur ini belum pernah kering," tutur Yasin.

Warga Rato dan Sumi sangat mengkhawatirkan Temba Romba akan hancur bila kegiatan tambang berlanjut, dan mata air desa itu akan kering.

Penolakan keras warga Sumi terhadap eksplorasi tambang emas berujung pada kematian tiga warganya. Warga Sumi yang memblokade Pelabuhan Sape selama lima hari dibubarkan paksa tanggal 24 Desember 2011 oleh aparat kepolisian. Akibatnya, tiga orang tewas terkena peluru tajam, dan belasan lainnya terluka. #86

23/12/11

asal mula hari ibu Indonesia

Tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu. Peringatan ini kerap disalahartikan sebagai bentuk terima kasih kepada ibu yang telah melahirkan dan mengurus rumah tangga. Namun, ternyata, hari ibu yang diperingati oleh bangsa Indonesia bukan demikian maksudnya.
Hari Ibu pertama kali dicetuskan pada tahun 1928. Misi diperingatinya Hari Ibu adalah untuk mengenang semangat dan perjuangan permpuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa. Semangat itu tercermin dalam perjuangan Sofie Korneliq Pandean, seorang perempuan kelahiran Minahasa yang tanpa rasa takut berseru tentang kemerdekaan bangsa.
Pandean adalah satu-satunya wanita yang ikut membacakan naskah Sumpah Pemuda. Selanjutnya, Kongres Permpuan pada 22 Desember yang dihadiri 30 organisasi perempuan dari 12 kota dari Jawa dan Sumatera membuktikan bahwa semangat perempuan juga memiliki cita-cita untuk kemerdekaan.
Hingga pertemuan ketiga, Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani) menetapkan hari untuk mengenang keberanian para perempuan yang turut membela negara. Dipilihlah 22 Desember sebagai Hari Ibu. Tanggal ini dikukuhkan dalam Kepres No. 316 tahun 1959 tentang Hari Nasional yang bukan hari libur dan diperingati hingga sekarang 
(sumber:http://id.berita.yahoo.com/hari-ibu-tak-sama-dengan-mothers-day-053012557.html)

bagaimana dengan hari ibu di bima, dan bagi teman teman rantauan apakan mash ingat dengan ibunya di kampung,,? apakah masih merasakan kangennya dengan orang tua termasuk ibu di kampung.? #86 

19/12/11

Sosialisasi Pilar Negara Oleh MPR RI


Info Kampung - Sumbawa Barat
Tuesday, 13 December 2011 03:12
Kminstan Poto Tano-(12/12/2011) Reformasi telah membawa perubahan yang sangat besar dalam penyelenggaraan Negara.  Sejak Presiden Soeharto menyatakan berhenti dari jabatan presiden pada tanggal 21 Mei 1998 muncullah era reformasi yang memberikan harapan terjadinya perubahan menuju Negara yang lebih demokratis, transparan, dan memiliki akuntabilitas tinggi serta terwujudnyya good governance dan adanya kebebasan berpendapat.
Hal yang paling populer dimasyarakat dan menjadi tuntutan semua komponen bangsa  pada era reformasi ini adalah :
  1. Amandemen Undang-Undang Dasar Negara Repuplik Indonesia Tahun 1945.
  2. Penghapusan dokrin dwifungsi ABRI.
  3. Penegakan supermasi hukum
  4. Desentralisasi dan otonomi daerah
  5. Kebebasan pers.
  6. Mewujudkan kehidupan demokrasi.
Tuntutan perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dilakukan untuk menyempurnakan aturan dasar guna lebih memantapkan upaya pencapaian cita-cita proklamasi 17 Agustus 1945 sebagaimana tertuang dalam pembukaan Undang-Undang dasar Negara Republik Indonesia.
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia telah mengalami empat kali perubahan  dari  tahun 1999-2002 terhadap  pasal-pasal yang multitafsir, misalnya pasal 6 ayat (1) Presiden ialah orang Indonesia asli . Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tidak menjelaskan apa yang dimaksud dengan orang Indonesia asli.
Proses  perubahan Undang-Undang Dasar  Negara Republik Tahun 1945 tidak serta merta diubah begitu saja, akan tetapi dilandasi oleh lima kesepakatan dasar  yaitu :
  1. Tidak mengubah Pembukaan UUD 1945
  2. Tetap mempertahankan Negara Kesatuan republic Indonesia
  3. Mempertegas system presidensil
  4. Penjelasan UUD 1945 yang memuat hal-hal yang normative akan dimasukkan ke dalam pasal-pasal
  5. Perubahan akan dilakukan dengan cara addendum
Dalam mengimplementasikan tugasnya sesuai dengan pasal 15 ayat (1) huruf e Undang-undang Nomor 27 Tahun 2009 tentang Majeli Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah  maka Pimpinan MPR mensosialisaikan empat pilar bangsa Indonesia yaitu Pancasila, UUD NRI 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhineka Tunggal Ika.
Sosialisasi empat pilar kehidupan bangsa Indonesia ini terlaksana atas kerja sama Pengurus Daerah PGRI Sumbawa Barat dengan MPR RI. Hadir pada kesempatan tersebut dua anggota MPR RI dari Komisi VI, Bupati Sumbawa Barat, Ketua PGRISumbawa Barat, unsur Muspida, perwakilan elemen masyarakat dan anggota PGRI Kabupaten Sumbawa Barat, jumlah peserta yang hadi sekitar 350 orang.(Uyik)


(sumber http://www.kampung-media.com/index.php?option=com_content&view=article&id=852:sosialisasi-pilar-negara-oleh-mpr-ri&catid=23:sumbawa-barat&Itemid=1)

15/12/11

UPACARA ADAT BIMA

Upacara nggana ro nggoa (Upacara kehamilan dan kelahiran Masyarakat Bima)

Yang dimaksud dengan upacara nggana ro nggoa ialah rangkaian upacara adat yang dimulai dan upacara “Salama Loko” sampai dengan upacara ”dore ro boru”.

1. Upacara salama loko.

Upacara Salama Loko disebut juga dengan Kiri Loko dilakukan ketika kandungan seorang ibu berumur tujuh bulan. Upacara ini hanya dilakukan bagi seorang ibu yang pertama kali mengandung. Jalannya upacara dihadiri oleh kaum ibu dan dipimpin oleh sando nggana (dukun beranak) yang dibantu oleh enam orang tua adat wanita.
Upacara akan dimulai pada saat maci oi ndeu (waktu yang tepat untuk mandi) di sekitar jam 07.00. Sando nggana menggelar tujuh lapis sarung. Setiap lapis ditaburi beras dan kuning uang perak sa ece (satu ketip = 10 sen).  Selain itu disimpan pula dua liku atau dua leo mama (dua bungkus bahan untuk menyirih). Maksud dan taburan beras kuning, ialah agar ibu beserta calon bayinya akan hidup bahagia dan jaya. Uang sa ece, sebagai peringatan kepada ibu bersama calon bayi, bahwa uang merupakan salah satu modal dalam kehidupan.
Diatas hamparan tembe dan kain putih, ibu yang salamaloko, tidur terlentang. Sando nggana mengoles perut ibu dengan sebiji telur, yang diminyaki dengan minyak kelapa. Diikuti secara bergilir oleh enam orang tua adat, memohon kepada Allah SWT, agar ibu bersama calon bayi selamat sejahtera.
Pada upacara ini keluarga dan tetangga baik pria maupun wanita diundang hadir untuk menyaksikan. Disaat dukun memperbaiki dan meraba-raba perut ibu hamil tersebut, saat itu pula para tamu laki-laki mengadakan do`a zikir. Ibu-ibu juga hadir untuk menyaksikan upacara salama loko /kiri loko, mereka umumnya membawa barang-barang kado/hadiah/sumbangan untuk sang ibu hamil. Kado/ hadiah/ sumbangan ini biasanya perlengkapan kebutuhan ibu dan bayi seperti baju bayi, handuk, bedak dan kadang-kadang uang tunai.
Upacara dilanjutkan dengan memandikan ibu yang salama loko. Dimandikan oleh sando nggana dengan air roa bou (air yang disimpan dalam periuk tanah yang baru). Dicampur dengan bunga cempaka dan mundu (cempaka kuning lambang kejayaan. Melati putih lambang kesucian). Waktu mandi, ibu yang salama loko menginjak telur bekas dipakai mengoles perutnya. Dengan harapan, agar melahirkan dengan mudah semudah ibu memecahkan telur. Upacara diakhiri dengan ngaha mangonco (makan rujak). Sang suami ikut pula makan mangonco bersama peserta upacara.
Sebuah kearifan lokal Bima apabila seorang istri sedang hamil adalah kedua pasangan suami istri dilarang untuk:
  1. berkata yang tidak senonoh
  2. menganiaya binatang atau manusia
  3. sedapat mungkin tidak menyembelih binatang ternak
  4. tidak berhubungan suami istri bila mendengar berita ada tetanga atau orang lain meninggal
  5. tidak membuang air besar di sembarang tempat
  6. tidak memotong sesuatu seperti kayu atau mengunting kertas. Jika terpaksa, ia harus ingat bahwa istrinya sedang hamil
  7. suami tidak diperkenankan berburu atau melakukan pekerjaan yang kurang baik seperti mengambil milik orang orang lain tanpa seijin orang yang punya dan sebaginya serta
  8. khusus istri tidak boleh tidur disaat matahari menjelang naik

2.  Upacara Cafi Sari

Upacara cafi sari dilakukan setelah bayi berumur tujuh hari. cafi sari dalam bahasa Indonesia berarti upacara menyapu lantai.  Maksud dari upacana ini, ialah menyampaikan puji syukur kepada Allah SWT atas limpahan rahmat-Nya karena sang ibu bersama bayi sudah lahir dengan selamat. Menurut kepercayaan tradisional pada usia tujuh hari, bayi akan memasuki kehidupan dunia, dan meninggalkan kehidupan dalam kandungan.
Sebagai tanda terima kasih kepada sando nggana, sang ibu memberi “soji” atau sesajen yang terdiri dan kue tradisional mbojo. Seperti pangaha kahuntu, karuncu, pangaha bunga, pangaha sinci, ka dodo, arunggina dan kalempe. Penyerahan soji merupakan lambang harapan orang tua, agar bayinya kelak akan hidup bahagia sejahtera.
Bagi keluarga yang mampu, upacara cafi sari dilaksanakan bersamaan dengan upacara qeqa atau aqiqah. Yaitu upacara yang sesuai dengan ajaran Islam. Yang menganjurkan orang tua untuk menyembelih seekor kambing yang sehat.  Sebagai tanda syukur kepada Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

3.  Upacara Dore ro Boru

Upacara ini dilakukan setelah bayi berusia tiga bulan. Upacara dore ro boru dilakukan secara bertahap sebagai berikut:
a. Upacara boru (upacara Potong rambut bayi)
Upacara boru diawali dengan upacara doa. Memohon kepada Allah SWT. agar bayi tetap sehat walafiat. Dan apabila dewasa, akan menjadi seorang yang beriman dan gagah perkasa. Pelindung dan pembela keluarga serta dou labo dana (masyarakat -red). Setelah upacara doa, maka dilanjutkan dengan upacara boru. Bayi digendong oleh sando nggana. Tujuh orang tua adat laki-laki, secara bergilir memotong ujung rambut bayi. Potongan rambut disimpan di pingga bura (piring putih) yang berisi air dingin. Dengan harapan agar rambut bayl tumbuh subur, sebagai lambang kesuburan dan kebahagiaan hidup.
Pemotongan rambutdiiringi dengan jiki asraka (jikir asrakal). Para peserta berjikir dengan suara merdu. Melagukan syair puja puji kepada Allah, Rasul dan para sahabat.
b. Upacara Dore.
Yang dimaksud dengan upacara dore ialah, upacara menyentuhkan telapak kaki bayi pada tanah. Beberapa gumpal tanah yang diambil dihalaman masjid disimpan diatas pingga bura. Tanah itulah yang akan diinjak oleh bayi.
Acara dore, bertujuan untuk mengingatkan bayi, bahwa kelak dia akan hidup di bumi yang bersih dan subur. Bayi harus mampu memanfaatkan kekayaan bumi untuk kebahagiaan keluarga dan masyarakat. Sebab itu bayi harus menjaga keselamatan bumi atau negeri.
Bayi yang di dore ro boru, harus memakai pakaian adat upacara. Hampir sama dengan pakaian khitanan. Kalau bayi itu laki-laki, maka harus memakai kondo loi, tembe monca (sarung kuning lambang kejayaan), kawari, songko panggeta’a yang dihiasi jungge dondo. Kalau bayi itu perempuan,maka harus memakai kondo lo’i, geno atau kondo randa (kalung panjang), kawari dan bosa yaitu ponto kecil. (Bosa = gelang yang lebih kecil dan ponto).
Pada jaman dulu, bagi keluarga bangsawan atau keluarga yang mampu secara finansial pada prosesi dore ini biasa diiringi oleh alunan genda silu dan dipertontonkan atraksi mpa’a Toja. Bersamaan dengan upacara dore ro boru diadakan pula upacara pemberian nama bagi bayi yang dilakukan oleh seorang ulama. Nama bayi harus mengikuti nama para Rasul dan Nabi atau nama para sahabat nabi. Dengan harapan agar mengikuti jejak para Nabi dan Rasul serta sahabat. Bagi bayi putri mengikuti nama istri Rasul dan Nabi atau nama istri-istri pejuang Islam.
Begitu kayanya tradisi lokal kita yang berkaitan dengan prosesi kelahiran manusia, penuh dengan nilai-nilai makna filosofis tentang bagaimana sejatinya manusia diciptakan dan menjadi khalifah di dunia. Teriring do’a dan harapan orang tua agar anaknya kelak menjadi insan yang berguna bagi dirinya sendiri, bangsa dan negara serta agama. Sayangnya upacara adat Bima berkaitan dengan kelahiran ini semakin jarang kita lihat. Semoga kekayaan budaya ini kan tetap lestari dan dinikmati keindahannya sampai anak cucu kita.

(sumber:komunitas jalan setapak )