Selama interval waktu yang lama itu La Kai dan Mubalig-mubalig Minang berhasil mendakwahkan Islam di masyarakat pegunungan Kalodu, dan menjadikan kawasan tersebut sebagai camp persembunyiannya bersama beberapa komunitas kecil muslim yang ikut serta. Sampai akhirnya, demi alasan keamanan, komunitas muslim di bawah komando para mubalig Minang ini memutuskan untuk hijrah ke Sulawesi, selama di sana mereka menetap di Istana Sultan Gowa, mendapat tempat dan kehormatan, karena mubalig Minang tersebut adalah guru sekaligus penasehat spiritualnya. Di sisi lain, Pandita Salisi terus menggalang konsolidasi, bahkan sampai meminta dukungan dari Kerajaan Dompo yang merupakan saudara tua Kerajaan Bima karena sesama protektorat Majapahit. Selama beberapa tahun itu pula, situasi Bima menjadi tidak menentu, dan Belanda melihat gelagat ini sebagai sebuah kesempatan untuk melakukan intervensi sempurna. Tahun 1633, di bawah pimpinan langsung Abdul Kahir, Nagari Bima dikepung dari segala arah, 400 armada kapal Gowa merapat ke teluk-teluk. Bagi penduduk yang membangkang dan melawan, rumahnya dibakar, dan terakhir sampai ke pertahanan Kerajaan. Tidak ada yang tersisa, semua simbol spiritual Nagari Bima dan perpustakaan-perpustakaan lama dimusnahkan, termasuk beberapa candi, kecuali beberapa prasasti yang tidak sempat ditemukan oleh pasukan La Kai. Dari kejauhan sana, Belanda bertepuk tangan, menunggu waktu yang tepat untuk bisa menduduki Bima Baru sebagai rute perdagangan VOC. Nagari Bima tamat ! Kebudayaan baru pun lahir !
Sudah kita maklumi semua, bahwa Belanda ketika memasuki Nusantara pada akhir abad ke 16, sesungguhnya memiliki dua misi ganda; yakni ekspansi politik dan ekonomi. Pilihan strategi Belanda di kala itu hanya satu, yakni memporak porandakan tatanan kultur masyarakat dengan adu domba, diplomat-diplomat Belanda menyusup sampai ke jantung rahasia kerajaan untuk memprovokasi para elite agar saling curiga, sehingga perang saudara bisa terlaksana. Yang pada gilirannya nanti, Belanda pula yang akan menengahinya dalam sebuah pertemuan arbitrase. Apalagi kontak pertama kali antara Belanda dengan Bima tercatat pada tahun 1605 melalui pelaut mereka Stephen Van Hagen. Itulah yang membuat saya berkesimpulan bahwa; Kesultanan Bima berdiri bersamaan dengan periode pembukaan jalur perdagangan VOC di wilayah Bima, sehingga mereka berkepentingan secara diplomatik untuk menempatkan seorang fetor, Resident, Commanditur, Gezhagebber atau bahkan Controleur di Bima.
Era rintisan Kesultanan Bima tidak bisa dipisahkan dari kebudayaan Gowa. Ibaratnya, dua wilayah ini terpisah secara teritorial namun satu dalam kebudayaannya. Integrasi inilah yang kemudian menciptkan emosi persaudaraan yang kuat antara orang Makassar dengan orang Bima, dan itu berlangsung sampai hari ini. Saya sendiri melihat ada beberapa hal yang menarik untuk dielaborasi tentang bagaimana pola hubungan ini kemudian bermula.
Pertama, pada masa sebelum kesultanan, sebenarnya hubungan antara Gowa dengan Bima tidaklah begitu rekat, hal ini bisa dilihat secara implisit dalam rantai silsilah Raja-Raja Bima. Di sana terlihat penyebutan nama Gowa hampir dikata tidak ada, sedangkan penyebutan Jawa muncul berulang-ulang. Sepertinya rute pelayaran Bima di kala itu tidak begitu dominan ke utara, tetapi lebih banyak ke arah timur dan barat, karena dahulunya wilayah kekuasaan Bima membujur sampai ke pulau Flores dan Timor, daerah-daerah di sana sudah ditaklukkan pada abad 13 M oleh pelaut-pelaut Bima, dan ekspansi ke timur lebih bernuansa ekonomi ketimbang politik, dalam artian bahwa Bima memiliki ketergantungan juga untuk mengambil sebahagian besar rempah-rempah di sana. Pola perdagangan barter di masa itulah yang kemudian memungkinkan banyak bahan mentah diambil dari daerah timur untuk dipasarkan ke kawasan Jawa dan Malaka. Sedangkan keterikatan dengan Gowa, secara tekstual saya melihatnya hanya muncul dalam silsilah Dewa yang melahirkan Sawerigading sebagai cikal bakal raja-raja di Sulawesi. (Lebih jelasnya, silahkan lihat silsilah di Bo’ Sangaji Kai)
Kedua, pada masa Hindu, penerapan sistem kasta di lingkup kerajaan Nagari Bima memang cukup kuat, dan nama-nama para bangsawan kita memang mengadopsi istilah-istilah Hindu. Bukan hanya pengkastaan, tetapi dalam tatanan sosial pun beberapa kosa kata warisan Hindu sudah teradaptasi menjadi bahasa Bima, yang penyebutannya pun mengikuti lidah orang Bima, sperti; Dewa, yang disebut dengan huruf D tipis menjadi ‘dewa, Bolo yang juga diucap dengan B tipis menjadi ‘bolo (berasal dari kata Bolo yang artinya pasukan, Bolodewo artinya pasukan dewa), juga kata-kata nCandi, dan nama kampung seperti Santi, termasuk juga kata Lewi yang berasal dari bahasa Sunda ‘Leuwi’. Nah, kesultanan Bima di bawah kendali Abdul Kahir dan Sirajuddin mengadopsi sistem kesultanan Gowa hampir secara utuh, dan proses ini berlangsung secara sporadis dan berkelindan. Pada saat simbol-simbol dan fundamen Islam mulai ditancapkan, pada saat yang sama pula khazanah kebudayaan Gowa diperkenalkan di Bima. Pada masa ini saya menduga, bahwa Abdul Kahir tidak mempunyai pilihan lain dalam hal sistem yang dipilih bagi imperium barunya, selain mencangkok sistem Gowa yang sudah lebih mapan, dan dia sendiri adalah bahagian tak terpisah dari kesultanan Gowa.
Ketiga, penghapusan sistem kasta dan peruntuhan seluruh simbol Hindu di Bima memaksa Abdul Kahir untuk mempersiapkan sebuah perangkat baru yang sesuai dengan ideologi yang dia anut. Sebagai seorang perwira muda yang dididik dalam kultur perkampungan muslim, La Kai juga memiliki sugesti kuat dengan menyandang trah kebangsawanan Bilmana yang mengalir dalam dirinya. Dia terlahir dari ayah yang hebat, “Mantau Asi Sawo”, seorang Pemimpin lokal keturunan Bilmana, yang saya duga adalah seorang Muslim. Di waktu yang sama, La Kai juga di back-up secara total oleh hampir separuh kekuatan armada perang Gowa. La Kai melihat bahwa, kebudayaan yang dianut dan dikembangkan oleh penguasa di bawah pimpinan Salisi itu bertentangan dengan teologi yang ada di hatinya, karena itulah La Kai dan para mubalig merasa perlu untuk meruntuhkan hegemoni eks Majapahit maupun Kediri yang saat itu jadi primadona Nagari Bima. Karena itulah, tindakan dekonstruksi yang dilakukan oleh Abdul Kahir Ma Bata Wadu sejatinya dilakukan secara radikal, mencabut kerangka kepercayaan Syiwaistis sampai ke akar-akarnya, dan menanamkan bibit-bibit pemerintahan Islam ala Gowa. Meskipun demikian, Abdul Kahir tidak sepenuhnya bisa melakukan itu secara cepat, karena secara geografis, imperium Bima baru yang dia bangun adalah sebuah pegunungan dengan belantara yang luas. Abdul Kahir tidak seutuhnya mengenal dan menguasai wilayah ini, dia hanyalah bertindak dan bergerak di poros kekuasaan, sedangkan penduduk-penduduk Nagari Bima yang lain masih terbiasa dan nyaman dengan kepercayaan pagan yang mereka anut selama ini
Keempat, Radikalisasi yang dilakukan Abdul Kahir dan para mubalig minang tersebut terlihat nyata dalam pergantian frame kebudayaan. Misalnya; penggunaan extention-extention Gowa dalam trah kebangsawanan kita seperti Daeng, Teta dan Puang yang semuanya diambil dari sana. Abdul Kahir sendiri, karena dibesarkan di lingkungan kerajaan Gowa, dan menjadi bangsawan penting di sana, tentu saja akhirnya dipanggil dengan sebutan Daeng (extentionlama untuk Raja-raja Gowa). Sedangkan jejak para mubalig Minang terlihat dalam panggilan seperti Ince dan Tati. Radikalisasi ini juga masuk sampai ke ranah kesenian, coba imajinasikan, apakah masyarakat Bima sebelum Islam mengenal tari-tarian (?). Mungkin saja ada, tetapi seni tari lenggo yang ada sekarang ini merupakan murni kebudayaan Melayu.
Kelima, radikalisasi ini sekaligus menjadi era baru bagi pola hubungan antar wilayah bagi kerajaan Bima. Sebelum menjadi kesultanan, sasaran komunikasi diplomatik nagari Bima sangat berorientasi ke Jawa sebagai pusat peradaban Hindu, dan hal tersebut meliputi hampir semua ranah, dari sosial kebangsawanan, politik pemerintahan sampai sektor ekonomi perdagangan. Sejak saat itulah, pola perkawinan silang dengan Gowa dimulai, termasuk dalam hal pendidikan pun, Gowa menjadi daerah patronase yang direkomendasikan oleh Sultan untuk anak-anak para bangsawan, dan itu terus berlangsung sampai sekarang, di mana Makassar menjadi salah satu pilihan alternatif untuk sekolah lanjutan ke perguruan tinggi.
Menjadi jelaslah kemudian, bahwa kemelut yang terjadi di Nagari Bima pada awal abad ke 17 M adalah sebuah bentuk Revolusi yang hebat. Dan revolusi inilah yang kemudian menjadi pintu masuk bagi bersemainya Islam di nagari Bima. Apa yang diprakarsai oleh Abdul Kahir “La Kai” Ma Bata Wadu sesungguhnya tidak hanya dalam perkara perang dalam arti konfrontasi fisik semata. Tetapi harus dilihat dengan proporsional, bahwa Abdul Kahir adalah pionir yang berinisiatif tinggi untuk menularkan spirit perubahan di nagari Bima. Dalam kurun waktu dua puluh tahun itu, telah tumbuh subur persemaian ide dan gagasan, bahkan saya menyebut La Kai telah didatangi oleh ilham Tuhan, ilham untuk merintis pekerjaan besar. La Kai melakukannya dengan hampir sempurna, dan meretas sebuah gerakan Revolusi Spiritual, Revolusi Kebudayaan, Revolusi Sosial dan Revolusi Politik secara serentak. Sebelum tutup, saya ajak anda untuk melayangkan Al Fatihah kepada tokoh besar kita Abdul Kahir La Kai Ma Bata Wadu. Semoga arwahnya ditempatkan bersama para pejuang dan termasuk orang-orang jujur di hadirat Allah.
sumber; http://fitua.blogspot.com