05/12/11

DAFTAR PEJABAT BELANDA YANG DITUGASKAN DI KERAJAAN BIMA



Nama
Jabatan
Periode
Sultan  Yang  Memerintah
Willem Eykman
Fetor
1687
Jamaluddin Ali Syah
Hendrik Steenkop
Resident
1689
Idem
Ch. Nootnagel
Resident
1692-1695
Idem
J. Happon
Resident
-------------

A. Bruower
Resident
1708
Hasanuddin Muhammad Ali Syah
Adersch Bruin
-----------
1719
Idem
Abraham Wokdour
-----------
1720-1724
Idem
J. Bannelius
Resident
1749
Kamalat Syah
W. Diefholtz
Resident
1753
Abdul Qadim Muhammad Syah
W. Courtrier
Resident
1754
Idem
H. Burggraaf
Resident
1756
Idem
Johann Tinne
Resident
1758-1764
Idem
Jacob Bikkes Bakker
Resident
1764
Idem
V. F. Higt
Resident
1768
Idem
Alexandre Lecerff
Komanditer
1771-1779
Abdul Hamid Muhammad Syah
A.Rosselet
Komdt.
1779
Idem
C. Meurs
Resident
1780-1793
Idem
A.Van Rossem
Komdt
1793
Idem
A.T. Vermeulen
Komdt.
1798
Idem
S. Jason
Komdt.
1801
Idem
Mr. J. H. Tobias
Onder-Perfect
1806
Idem
H. Klaassen
Onder-Perfect
1810
Idem
Pielaat
Resident (?)
1812
Idem
J. C. Vetter
Resident
1820-1822
Ismail Muhammad Syah
F.E. Hageman
Ass. Resident
1822
Idem
Heintzen
1e. Luit
1824
Idem
Van Der Giesen
1e. Luit
1825
Idem
J. R. Eijlers
Gezaghebber
1827-1830
Idem
C. H. Steijns
Gezaghebber
1830-1838
Idem
W. L. Van Zuijlen
Gezaghebber
1838-1843
Idem
J. F. Tramburg
Gezaghebber
1843
Idem
J. L. Mulder
Gezaghebber
1844
Idem
H. F. G. Trauerbach
Gezaghebber
1845
Idem
P. A. Saptenno
Gezaghebber
1847-1858
Idem
J. N. Vosmaer
Controleur
1863-1866
Abdullah
EAOFWC Gasinjet
Fungerend Controleur
1872-1874
Abdul Aziz
JW Meerburg
Controleur
1890
Ibrahim

Dikutip dari Bo’ Sangaji Kai (Sumber : Zollinger 1850; Noorduyn 1987) (86)

MUNGKINKAH MBOJO ITU MEMANG NAMA ASLI TANPA KONTAMINASI


Dari beberapa referensi sejarah yang saya baca tentang asal-usul nama Mbojo, hampir semuanya sepakat menyebut bahwa kata Mbojo berasal dari istilahBuju, atau Kabuju, yang kemudian menjadi kata sifat Ma Mbuju. Kata Buju sendiri dalam bahasa Bima berarti “Gundukan Tanah”, para sejarawan menyimpulkan bahwa Mbojo adalah penegasan terhadap bentuk geografis Bima yang berbukit-bukit. Pendapat lainnya yang tidak kalah populer ialah, istilahMbojo berasal dari bahasa bahasa Jawa, “Bojo”. Bojo artinya kekasih,suami atau istri. Kesimpulan ini memiliki dasar ilmiah yang cukup kuat, karena berdasarkan sejarahnya, Raja Sang Bima dahulu mempersunting istri dari kawasan ini, saat dia kembali ke Jawa, dia menyebut wilayah ini sebagai negerimBojoku (tempat asal isteri saya). Kemudian dia memanggil istrinya dengan sebutan mBojo, yang terdengar ke telinga rakyatnya lalu disebutlah wilayah ini dengan sebutan raja mereka.

Kalau saya punya versi lain. Saya menduga, istilah Mbojo itu sudah ada sejak zaman baheula, nama ini muncul seiring dengan kelahiran bahasanya. Dan saya meyakini istilah Mbojo memiliki arti tersendiri yang tidak terkait dengan bentuk geografis maupun legenda-legenda sejarah. Kata Mbojo berasal dari dua huruf, yakni huruf MBO dan huruf JO. Aksara Bima tentu saja berbeda dengan aksara latin yang ada, sepintas kita melihat kata Mbojo adalah lima huruf, padahal boleh jadi dalam tata bahasa Bima kuno, itu hanyalah dua huruf. Ambillah contoh aksara Jawa kuno (kawi) yang dipopulerkan oleh Jayabaya sebagai gugusan kata yang bermakna Ho No Co Ro Ko No To No Go Ro Do To So Wo Lo Po Do Jo Yo No. Nah, kata Mbojo pun saya duga seperti itu, karena memang zaman dulu dalam sebuah huruf justru terkandung sebuah makna simbolik secara umum.

Sekarang coba perhatikan kata-kata dalam bahasa Bima berawalan MBO beserta terjemahan bebasnya yang saya urut berikut ini :

Pecahan Huruf
Mbojo
Indonesia
m Bo Cu
Mbocu
Kenyang
m Bo Lo
Mbolo
Bundar
m Bo Ko
Mboko
Cekung
m Bo To
Mboto
Banyak
m Bo Wo
Mbowo
Gonggong
m Bo Tu
Mbotu
Terbang
m Bo Ra
Mbora
Hilang
m Bo U
Mbou
Tersohor
m Bo Ho
Mboho
Tumpah
m Bo Le
Mbole
Benjol
m Bo Nci
Mbonci
Tumbuh
m Bo Nga
Mbonga
Gila
m Bo Nggi
Mbonggi
Mandul
m Bo Nto
Mbonto
Cabut

Seandainya saya tambahkan di akhir deretan kata tadi seperti ini :

m Bo Jo     =     ?????

(Apa yang tergambar dalam pikiran anda sekarang)

Istilah Mbojo mempersatukan penduduk dataran ini dalam kesatuan teritorial (Dana Mbojo), komunitas (Dou Mbojo), bahasa tutur (Nggahi Mbojo), Karakter(Tabe’a Mbojo) dan pemerintahan (Sangaji Mbojo). Tetapi ada fakta unik yang kadang di luar dari kesadaran kita sehari-hari bahwa penyebutan kata Mbojosecara teritorial dalam tataran domestik kita sendiri cenderung menyempit dan terpusat. Coba simak dialog keseharian kita, bagi warga Raba yang berada sebelah timur gunung dua (tepatnya perbatasan jalan gatot subroto), jika hendak ke pasar Bima selalu mengatakan “Nee lao di Mbojo”, tapi warga yang berada di wilayah sebelah barat gunung dua, tidak akan menyebut demikian. Ini pun berlaku bagi masyarakat Bima Selatan (Dou Ta Dei), Bima Barat (Dou Ipa), Bima Tenggara (Ese Wera) dan Bima Timur (Dou Mai Ese Mai). Kalimat-kalimatnya akan seperti ini :

  • Nahu nee lao ari Mbojo (ini pengucapan masyarakat yang bermukim dari wilayah perbatasan Uma Mee/Bandara sampai ke Langgudu) 
  •  Nahu nee lao awa Mbojo (ini versi masyarakat Wawo, Wera dan Sape) 
  •  Nahu nee lao ipa Mbojo (ini versi masyarakat Bolo dan Donggo)
Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, maka kalimat-kalimat itu akan terdengar rancu, misalnya “Nahu nee lao ari Mbojo” akan berarti “Saya mau keluar ke Bima”.

Tanpa kita sadari ternyata pada ranah tempat secara sektoral, Mbojo yang kita maksud itu hanya berlaku bagi pada kawasan Pasar dan Pusat Pemerintahan kerajaan saja. Tetapi tatkala masyarakat Bima ini berada di luar wilayahnya sendiri, kata “Mbojo” dijadikan sebagai sebutan perekat secara integral sebagai sebuah komunitas, dan masyarakat Dompu pun kadang-kadang juga turut merasakan pengaruh kekuatan komunitas ini.

Ada beberapa sebab yang menginspirasi saya berkesimpulan seperti ini : 
  1. Bahasa Bima termasuk bahasa tertua dalam rumpun bahasa-bahasa di Nusantara, meski penuturnya sedikit, akan tetapi bahasa ini ditunjang juga oleh keberadaan aksaranya, sehingga bisa dikatakan bahwa pada abad 13 M sebelum didaulati Majapahit, wilayah ini sudah memiliki peradaban sendiri yang sudah cukup diperhitungkan, karena sudah maju dalam hal baca-tulis. Mungkin saja, lembaran-lembaran kuno tentang negeri ini sudah punah atau dimusnahkan setelah Bima berubah bentuk menjadi Kesultanan pada tahun 1611 M. 
  2. Istilah Mbojo dalam pandangan saya adalah sebuah kata yang tersusun dari dua huruf seperti tadi, dia bermakna sama halnya dengan kata-kata berawalan Mbo lainnya, dan saya meyakini bahwa setiap kata dalam bahasa Bima yang berawalan Mbo tidak menunjukkan sifat atau bentuk suatu Tempat, tetapi cenderung bermakna akibat atau keterangan dari sebuah tindakan. 
  3. Saya menjumpai nama kampung atau tempat-tempat pemukiman tua di wilayah Bima justru berawalan NTO, sejauh ini yang tersisa secara administratif sebagai sebuah desa atau wilayah ada empat, yakni Nto ‘bo, Nto ke, Nto ri dan Nto nggu. Secara linguistik sepertinya sama dengan kata-kata berawalan MBO tadi. 
  4. Bagi masyarakat Bima, penamaan sebuah wilayah selalu disertai dengan bumbu-bumbu legenda yang menyertainya, dan itu berkembang secara verbal sebagai cerita rakyat. Dalam keseharian kita, asal-usul nama Mbojo justru tidak terdengar sebagai riwayat tuturan lisan dari generasi ke generasi. Buku BO’ sebagai salah satu referensi sejarah Bima, tidak menguraikan asal-usul penamaan ini. Karena BO’ yang sampai ke tangan kita hari ini hanyalah BO catatan silsilah, laporan perjalanan para Sultan (sebahagian berdasarkan catatan Belanda), Cerita Asal Usul Bangsa Jin dan Dewa-Dewa serta Syair Kerajaan Bima. Atau boleh jadi, dulunya terdapat BO’ yang menguraikan asal-usul tanah negeri ini bermula, yang kemudian hilang ataukah pula terbakar. 
  5. Mbojo adalah sebuah sebutan atau julukan yang sejak awal sudah disepakati oleh beberapa Pandita (kaum terpelajar) dan kelompok-kelompok penguasa lama, jauh sebelum Mbojo dikemas menjadi sebuah Kerajaan Hindu oleh Majapahit.

Catatan ini meski tidak berdiri dalam bangunan dan kerangka ilmiah namun setidaknya dapat dijadikan secuil acuan untuk kita berkhayal ke masa lalu. Semoga bermanfaat bagi para budayawan, sejarawan maupun para peneliti bahasa. (86)

TAFSIR FITUA TENTANG KUDETA NAGARI BIMA


Peristiwa kudeta berdarah yang dipimpin oleh La Kai sesungguhnya juga menunjukkan adanya benturan keras antara dua misi kebudayaan. Saya tidak ingin meletakkan bahwa La Kai sebagai pihak yang ditindas, lalu menganggap blokSalisi sebagai agressor, karena lama waktu pertikaian itu bukan setahun atau dua tahun, tapi memakan waktu sampai berpuluh-puluh tahun. Saya menyebut itu kudeta itu sebagai benturan keras antara dua kebudayaan dengan alasan; Pertama, Perang saudara ini bukan hanya soal konfrontasi antara La Kai versus Salisi semata, namun keterlibatan pihak-pihak ketiga pun patut untuk diteliti. Pihak ketiga yang saya maksudkan ialah Kerajaan Gowa, Kerajaan Dompo dan juga Belanda (dalam hal ini VOC). Kenapa Kerajaan Gowa terlibat? Nah, seperti kita ketahui; berubahnya statuten Kerajaan Gowa menjadi Kesultanan adalah berkat panduan dari komunitas mubaligh minang yang mendapat misi tersebut dari Kasunanan Giri di Gresik. Pada saat tolak-tarik kekuasaan di internal kebangsawanan Bima, mubalig-mubalig tersebut juga sudah menetap di perkampungan muslim di Bima

Keterlibatan Dompo sebenarnya tidak begitu banyak diceritakan dalam teks-teks sejarah Bima, hanya di dalam Bo’ disebutkan bahwa Nagari Bima pernah menggalang dukungan dengan Dompo untuk menyerang Abdul Kahir yang baru saja menggulingkan blok Salisi. Jadi jelas menurut Bo’, bahwa sampai tahun 1621 ketika Abdul Kahir dikukuhkan sebagai Pemimpin Nagari Bima, situasi di Bima belum sepenuhnya kondusif, dan Salisi belum sepenuhnya kalah, karena eksponen-eksponen Bala Ksatria yang setia kepada Salisi terus menyebar agitasi dari satu pegunungan ke pegunungan yang lain, provokasi ini dijalankan untuk mengkonsolidasi kekuatan agar tahta Nagari Bima bisa diambil kembali, sepertinya itu berhasil, karena Kerajaan Dompo yang merupakan sesama daerah protektorat Majapahit justru bergabung dengan blok Salisi dan menyerang Abdul Kahir. Kemelut inilah yang menyulut amarah Sultan Gowa karena melihat perang tidak seimbang. Demi reputasi pula akhirnya pada tahun 1633, armada kapal Gowa menyerbu Nagari Bima.


Kemelut Nagari Bima memakan waktu sekitar 23 tahun. Lamanya waktu ini kemungkinan terjadi karena dua kutub kebudayaan yang berbenturan itu sama-sama kuatnya. Saya cenderung melihat bahwa Salisi merupakan representasi dari kelompok Hindu sisa Majapahit yang menguasai Bima Nagari, dia adalah generasi terakhirnya. Dan seperti kita ketahui, di penghujung masa jayanya, Majapahit pun dipaksa untuk morat marit ing paregreg akibat perang saudara, dan situasi itu di Jawa dimanfaatkan oleh Wali Songo untuk mengambil alih kekuasaan yang ada. Nah, di Bima sendiri, terjadi kegalauan yang panjang pasca keruntuhan Majapahit, di lingkungan internal para bangsawan Nagari Bima muncul kekisruhan tentang eksistensi kerajaan. Pada akhir abad ke 16, aroma perebutan kekuasaan itu mulai menyeruak, dan Salisi berhasil mendapuk dirinya sebagai raja baru.

Sedangkan La Kai, sebenarnya saya menduga kalau beliau ini tidak memiliki pertalian darah dengan bangsawan-bangsawan kerajaan nagari Bima. Di posting lain saya sudah menulis bahwa La Kai memang terlahir sebagai muslim, karena saya meyakini di pesisir timur Bima ini sudah ada perkampungan muslim yang dirintis oleh beberapa pedagang Arab yang datang dari arah Ternate maupun Tidore. Dan secara intelektual, La Kai memang termasuk kalangan terdidik dan punya transmisi keislaman dengan kasunanan Giri. Di perkampungan muslim awal inilah ide-ide untuk menguasai Nagari Bima sudah mulai diperbincangkan. Nah, ketika Dato’ Ri Bandang, Dato’ Ri Tiro dan Dato’ Pattimang datang, maka momentum tersebut menemukan jalannya, karena mereka memberitakan banyak hal, termasuk banyaknya wilayah di luar yang sudah menyesuaikan diri dengan hukum-hukum Islam, dari merekalah berita tentang keruntuhan Majapahit itu mulai tersiar, sehingga menguatkan keyakinan La Kai untuk memilih jalan revolusi demi mengambil alih Nagari Bima, apalagi para mubalig ini juga menceritakan tentang keberhasilannya membangun Kesultanan Gowa. Ibarat Hot News, wacana tentang perlunya mendirikan sebuah kerajaan Islam menjadi topik hampir seluruh kalangan menengah ke atas di Nusantara. Dan berita-beritanya pun semakin sahih setelah para pedagang lintas pulau dan pelaut Nagari Bima membahasnya di mana-mana. (Karena zaman itu memang belum ada telepon).

Nah, persinggungan dan benturan dua kutub kebudayaan itu mengambil bentuk seperti ini; Salisi mewakili kutub Bima-Hindu-Eks Majapahit, sedangkan La Kai mewakili kutub Bima-Islam-Kesultanan Gowa. Keduanya sama-sama berasal dari Bima, namun berbeda pada pilihan spiritualnya, serta mempunyai patron politik yang berbeda pula. Jika Salisi menggunakan emosi eks Majapahit untuk melegitimasi kekuasaannya secara status quo, dan masih dalam penerapan kebudayaan Jawa lama, maka La Kai menjadikan Kesultanan Gowa sekaligus sebagai bemper untuk memangun imperium barunya. Jadi, dua kutub ini sama-sama legal, meskipun secara struktural Salisi memang berhak menguasai Nagari Bima karena frame politik-spiritualnya sudah menjadi ideologi mutlak masyarakat feodalistik Bima. Sedangkan Abdul Kahir, masih harus berproses untuk menggalang simpati bersama para mubalig Minang tersebut ke seluruh wilayah Bima

Sekarang kita langsung saja masuki imajinasi tentang situasi kemelutnya. Soal perang, pasukan La Kai tentu saja kalah secara kuantitas, apalagi Panandita Bima di kala itu memerintahkan seluruh masyarakat agar mengepung dan menghabisi La Kai dan mubalig-mubalig tersebut. Dalam situasi terjepit dan diburu oleh laskar-laskar Bima, La Kai memilih untuk berpindah-pindah tempat. Berita perang ini kemudian sampai ke telinga Sultan Gowa dari kabar yang dibawa oleh para pedagang Bima. Dengan solidaritas dan semangat Ukhuwwah yang dipegang teguh, maka para mubalig Minang ini meminta sokongan kepada Sultan Gowa untuk turut memback-up La Kai yang sudah dalam keadaan terjepit.

Selama interval waktu yang lama itu La Kai dan Mubalig-mubalig Minang berhasil mendakwahkan Islam di masyarakat pegunungan Kalodu, dan menjadikan kawasan tersebut sebagai camp persembunyiannya bersama beberapa komunitas kecil muslim yang ikut serta. Sampai akhirnya, demi alasan keamanan, komunitas muslim di bawah komando para mubalig Minang ini memutuskan untuk hijrah ke Sulawesi, selama di sana mereka menetap di Istana Sultan Gowa, mendapat tempat dan kehormatan, karena mubalig Minang tersebut adalah guru sekaligus penasehat spiritualnya. Di sisi lain, Pandita Salisi terus menggalang konsolidasi, bahkan sampai meminta dukungan dari Kerajaan Dompo yang merupakan saudara tua Kerajaan Bima karena sesama protektorat Majapahit. Selama beberapa tahun itu pula, situasi Bima menjadi tidak menentu, dan Belanda melihat gelagat ini sebagai sebuah kesempatan untuk melakukan intervensi sempurna. Tahun 1633, di bawah pimpinan langsung Abdul Kahir, Nagari Bima dikepung dari segala arah, 400 armada kapal Gowa merapat ke teluk-teluk. Bagi penduduk yang membangkang dan melawan, rumahnya dibakar, dan terakhir sampai ke pertahanan Kerajaan. Tidak ada yang tersisa, semua simbol spiritual Nagari Bima dan perpustakaan-perpustakaan lama dimusnahkan, termasuk beberapa candi, kecuali beberapa prasasti yang tidak sempat ditemukan oleh pasukan La Kai. Dari kejauhan sana, Belanda bertepuk tangan, menunggu waktu yang tepat untuk bisa menduduki Bima Baru sebagai rute perdagangan VOC. Nagari Bima tamat ! Kebudayaan baru pun lahir !

Sejauh ini, perang antara Salisi versus La Kai masih ditangkap secara turun-temurun sebagai dongeng, ibarat cerita perang kurusetra. Dari nama-nama, alur cerita dan motif-motif perang, semuanya dibukukan hanya dalam satu catatan tertulis, yakni Bo’; yang ditulis dengan huruf arab melayu, dituturkan dalam dialek melayu. Drama peristiwa tidak terurai secara tuntas, baik “sanad” maupun “perawi” nya masih perlu diinterpretasikan kembali. Menciptakan mitos atau dongeng atas sebuah fakta sejarah memang beresiko terhadap keyakinan generasi berikutnya, dan ini benar-benar terjadi, bagaimana kemudian Abdul KahirRumata Ma Bata Wadu hanya populer dengan nama panggilannya saja sebagai La Kai. Saya tetap meyakini, bahwa masih banyak catatan-catatan Belanda tentang peristiwa itu yang sekarang belum terkuak ke permukaan.

Sudah kita maklumi semua, bahwa Belanda ketika memasuki Nusantara pada akhir abad ke 16, sesungguhnya memiliki dua misi ganda; yakni ekspansi politik dan ekonomi. Pilihan strategi Belanda di kala itu hanya satu, yakni memporak porandakan tatanan kultur masyarakat dengan adu domba, diplomat-diplomat Belanda menyusup sampai ke jantung rahasia kerajaan untuk memprovokasi para elite agar saling curiga, sehingga perang saudara bisa terlaksana. Yang pada gilirannya nanti, Belanda pula yang akan menengahinya dalam sebuah pertemuan arbitrase. Apalagi kontak pertama kali antara Belanda dengan Bima tercatat pada tahun 1605 melalui pelaut mereka Stephen Van Hagen. Itulah yang membuat saya berkesimpulan bahwa; Kesultanan Bima berdiri bersamaan dengan periode pembukaan jalur perdagangan VOC di wilayah Bima, sehingga mereka berkepentingan secara diplomatik untuk menempatkan seorang fetorResident, Commanditur, Gezhagebber atau bahkan Controleur di Bima.

Era rintisan Kesultanan Bima tidak bisa dipisahkan dari kebudayaan Gowa. Ibaratnya, dua wilayah ini terpisah secara teritorial namun satu dalam kebudayaannya. Integrasi inilah yang kemudian menciptkan emosi persaudaraan yang kuat antara orang Makassar dengan orang Bima, dan itu berlangsung sampai hari ini. Saya sendiri melihat ada beberapa hal yang menarik untuk dielaborasi tentang bagaimana pola hubungan ini kemudian bermula.

Pertama, pada masa sebelum kesultanan, sebenarnya hubungan antara Gowa dengan Bima tidaklah begitu rekat, hal ini bisa dilihat secara implisit dalam rantai silsilah Raja-Raja Bima. Di sana terlihat penyebutan nama Gowa hampir dikata tidak ada, sedangkan penyebutan Jawa muncul berulang-ulang. Sepertinya rute pelayaran Bima di kala itu tidak begitu dominan ke utara, tetapi lebih banyak ke arah timur dan barat, karena dahulunya wilayah kekuasaan Bima membujur sampai ke pulau Flores dan Timor, daerah-daerah di sana sudah ditaklukkan pada abad 13 M oleh pelaut-pelaut Bima, dan ekspansi ke timur lebih bernuansa ekonomi ketimbang politik, dalam artian bahwa Bima memiliki ketergantungan juga untuk mengambil sebahagian besar rempah-rempah di sana. Pola perdagangan barter di masa itulah yang kemudian memungkinkan banyak bahan mentah diambil dari daerah timur untuk dipasarkan ke kawasan Jawa dan Malaka. Sedangkan keterikatan dengan Gowa, secara tekstual saya melihatnya hanya muncul dalam silsilah Dewa yang melahirkan Sawerigading sebagai cikal bakal raja-raja di Sulawesi. (Lebih jelasnya, silahkan lihat silsilah di Bo’ Sangaji Kai)

Kedua, pada masa Hindu, penerapan sistem kasta di lingkup kerajaan Nagari Bima memang cukup kuat, dan nama-nama para bangsawan kita memang mengadopsi istilah-istilah Hindu. Bukan hanya pengkastaan, tetapi dalam tatanan sosial pun beberapa kosa kata warisan Hindu sudah teradaptasi menjadi bahasa Bima, yang penyebutannya pun mengikuti lidah orang Bima, sperti; Dewa, yang disebut dengan huruf D tipis menjadi ‘dewa, Bolo yang juga diucap dengan B tipis menjadi ‘bolo (berasal dari kata Bolo yang artinya pasukan, Bolodewo artinya pasukan dewa), juga kata-kata nCandi, dan nama kampung seperti Santi, termasuk juga kata Lewi yang berasal dari bahasa Sunda ‘Leuwi’. Nah, kesultanan Bima di bawah kendali Abdul Kahir dan Sirajuddin mengadopsi sistem kesultanan Gowa hampir secara utuh, dan proses ini berlangsung secara sporadis dan berkelindan. Pada saat simbol-simbol dan fundamen Islam mulai ditancapkan, pada saat yang sama pula khazanah kebudayaan Gowa diperkenalkan di Bima. Pada masa ini saya menduga, bahwa Abdul Kahir tidak mempunyai pilihan lain dalam hal sistem yang dipilih bagi imperium barunya, selain mencangkok sistem Gowa yang sudah lebih mapan, dan dia sendiri adalah bahagian tak terpisah dari kesultanan Gowa.

Ketiga, penghapusan sistem kasta dan peruntuhan seluruh simbol Hindu di Bima memaksa Abdul Kahir untuk mempersiapkan sebuah perangkat baru yang sesuai dengan ideologi yang dia anut. Sebagai seorang perwira muda yang dididik dalam kultur perkampungan muslim, La Kai juga memiliki sugesti kuat dengan menyandang trah kebangsawanan Bilmana yang mengalir dalam dirinya. Dia terlahir dari ayah yang hebat, “Mantau Asi Sawo”, seorang Pemimpin lokal keturunan Bilmana, yang saya duga adalah seorang Muslim. Di waktu yang sama, La Kai juga di back-up secara total oleh hampir separuh kekuatan armada perang Gowa. La Kai melihat bahwa, kebudayaan yang dianut dan dikembangkan oleh penguasa di bawah pimpinan Salisi itu bertentangan dengan teologi yang ada di hatinya, karena itulah La Kai dan para mubalig merasa perlu untuk meruntuhkan hegemoni eks Majapahit maupun Kediri yang saat itu jadi primadona Nagari Bima. Karena itulah, tindakan dekonstruksi yang dilakukan oleh Abdul Kahir Ma Bata Wadu sejatinya dilakukan secara radikal, mencabut kerangka kepercayaan Syiwaistis sampai ke akar-akarnya, dan menanamkan bibit-bibit pemerintahan Islam ala Gowa. Meskipun demikian, Abdul Kahir tidak sepenuhnya bisa melakukan itu secara cepat, karena secara geografis, imperium Bima baru yang dia bangun adalah sebuah pegunungan dengan belantara yang luas. Abdul Kahir tidak seutuhnya mengenal dan menguasai wilayah ini, dia hanyalah bertindak dan bergerak di poros kekuasaan, sedangkan penduduk-penduduk Nagari Bima yang lain masih terbiasa dan nyaman dengan kepercayaan pagan yang mereka anut selama ini

Keempat, Radikalisasi yang dilakukan Abdul Kahir dan para mubalig minang tersebut terlihat nyata dalam pergantian frame kebudayaan. Misalnya; penggunaan extention-extention Gowa dalam trah kebangsawanan kita seperti Daeng, Teta dan Puang yang semuanya diambil dari sana. Abdul Kahir sendiri, karena dibesarkan di lingkungan kerajaan Gowa, dan menjadi bangsawan penting di sana, tentu saja akhirnya dipanggil dengan sebutan Daeng (extentionlama untuk Raja-raja Gowa). Sedangkan jejak para mubalig Minang terlihat dalam panggilan seperti Ince dan Tati. Radikalisasi ini juga masuk sampai ke ranah kesenian, coba imajinasikan, apakah masyarakat Bima sebelum Islam mengenal tari-tarian (?). Mungkin saja ada, tetapi seni tari lenggo yang ada sekarang ini merupakan murni kebudayaan Melayu.

Kelima, radikalisasi ini sekaligus menjadi era baru bagi pola hubungan antar wilayah bagi kerajaan Bima. Sebelum menjadi kesultanan, sasaran komunikasi diplomatik nagari Bima sangat berorientasi ke Jawa sebagai pusat peradaban Hindu, dan hal tersebut meliputi hampir semua ranah, dari sosial kebangsawanan, politik pemerintahan sampai sektor ekonomi perdagangan. Sejak saat itulah, pola perkawinan silang dengan Gowa dimulai, termasuk dalam hal pendidikan pun, Gowa menjadi daerah patronase yang direkomendasikan oleh Sultan untuk anak-anak para bangsawan, dan itu terus berlangsung sampai sekarang, di mana Makassar menjadi salah satu pilihan alternatif untuk sekolah lanjutan ke perguruan tinggi.

Menjadi jelaslah kemudian, bahwa kemelut yang terjadi di Nagari Bima pada awal abad ke 17 M adalah sebuah bentuk Revolusi yang hebat. Dan revolusi inilah yang kemudian menjadi pintu masuk bagi bersemainya Islam di nagari Bima. Apa yang diprakarsai oleh Abdul Kahir “La Kai” Ma Bata Wadu sesungguhnya tidak hanya dalam perkara perang dalam arti konfrontasi fisik semata. Tetapi harus dilihat dengan proporsional, bahwa Abdul Kahir adalah pionir yang berinisiatif tinggi untuk menularkan spirit perubahan di nagari Bima. Dalam kurun waktu dua puluh tahun itu, telah tumbuh subur persemaian ide dan gagasan, bahkan saya menyebut La Kai telah didatangi oleh ilham Tuhan, ilham untuk merintis pekerjaan besar. La Kai melakukannya dengan hampir sempurna, dan meretas sebuah gerakan Revolusi Spiritual, Revolusi Kebudayaan, Revolusi Sosial dan Revolusi Politik secara serentak. Sebelum tutup, saya ajak anda untuk melayangkan Al Fatihah kepada tokoh besar kita Abdul Kahir La Kai Ma Bata Wadu. Semoga arwahnya ditempatkan bersama para pejuang dan termasuk orang-orang jujur di hadirat Allah. 

sumber; http://fitua.blogspot.com

04/12/11

The Bima Horse Festival


“Remember the Horse remembered Bima, Remember Bima remembered the Horse”

So hope that want to in created in the activity of the horse festival that was carried out in the City/Regency of Bima that was carried out every month in December. This event was carried out to celebrate the anniversary of West Nusa Tenggara province and welcome visit Lombok – Sumbawa 2012.  In the festival, the Bima city held a parade or the horse procession, stock and horse exhibition, culinary horse and seminars about horses. Meanwhile of Bima regency holding the traditional horse racing.
For the parade or the horse procession followed by about 500 horses and their jockeys and inlaid with a route guide from Soekarno – Hatta Street to the Bima palace, by displaying the Sultanate of Bima cavalry.
In the afternoon at 16.00 until 22.00 hours held exhibitions and the people’s market in the Bima Palace town square with featuring folk handicraft industry, horse accessories, souvenirs and the prototype of horses, horse culinary ingredients, competitions and photo exhibitions about the horse and paint horse race which is followed by the student.
For the traditional horse race held at the horse race Panda Bima regency with participants around 700 horses as the island of Sumbawa.  This event ismotivated by the commitment of the government of West Nusa Tenggara province in the success of Visit Lombok – Sumbawa 2012 by distributing a variety of events to each region in the province of West Nusa Tenggara, as well as introducing the potential of each region, like the Bima.  The horse as an icon of Bima and preservation of cultural values and traditions.

Museum SAMPARAJA Bima


Bima besides having Mbojo ASI Museum, also has another museum that is used as a place to store the relics of ancient manuscripts Bima kingdom era. SAMPARAJA Museum This museum is located in Gajah Mada street subdistrict Monggonao Bima City. The building is not the relics of the kingdom and is managed by the Foundation Museum Samparaja Bima.

The building has three rooms. To dance, exhibitions and a place to store private collections and Bima ethnic groups, such as the original Book of BO. The book is to discuss particulars Bima kingdom in the 14th century AD. BO Book has been published in book form titled BO Sangajikai which is a record Bima kingdom.
In this museum there are also objects relic Sultanate of Bima. To the east there is the room that holds the traditional dress dance Toja. This dance is played by four women. There are also traditional clothes Kanja dance and dresses Bima kingdom greatness. Clothing is used during traditional ceremonies Hanta U’a Pua. Also stored in this museum clothingGalarang and how indigenous Camat royal and imperial era.
Building the West there is a room that is used as a place to store kitchen tools from bronze, songket equipment, gold kebaya made in the 16th century and the table remains the Sultanate of Bima.  Besides, there is a photo of Sultan Ibrahim, photographs and images of Sri Sultan Ibrahim Sultan Muda Mohamed Salahuddin is still stored properly. These collections as if to invite us to remember how the royal and imperial past.

mengenal beberapa tarian dan kesenian Bima

inilah beberapa video kesenian bima..

mpa'a manca.

dalam #bahasaBIMAnya mpa'a adalah permainan. kalau kaliang sudah follow twitter @saveBima pasti kalian akan di sajikan bahasa bimanya.. serru lhoo.! makanya sekarang kami akan mennyajikan beberapa video permainan bima yang harus dan wajib kita jaga kelestariannya. bagi kalain kaum mudaa.. mari kenali budaya kita. 


mpa'a manca. adalah sejenis permainan pedang. atau bisa juga di sebut tarian yang di lakukan oleh duan orang menggunakan pedang dan saling menyerang.. perminan ini di iringi oleh musik gendang dan "silu" dalam #bahasaBIMAnya seruling sejenis terompet. Silu termasuk jenis alat musik aerofon tipe hobo, karena silu memiliki lidah lebih dari satu. Lidah pada silu disebut pipi silu terdiri atas 4 lidah.
seperti gambar di atas



buja kadanda

sedangkan ini adalah mpa'a buja kadanda. 
foto wadu sura
Tari ini dibawakan oleh dua orang pemain laki – laki dengan mempergunakan senjata “buja kadanda” atau tombak berumbai bulu ekor kuda, dilengkapi dengan perisai (perisai). Karena itu tari ini diberi nama mpa’a buja kadanda. Diiringi musik genda Mbojo. dalam bahasa Bima buja adalah permainan melakukan tombak. atau bisa juga menggunakan rotan. ingat permainan ini hanya bisa di lakukan oleh orang orang yang terlatih, tidak dapat  di  mainkan oleh sembarang orang. tarian ini konon di lakoni oleh para prajurit kerajaan kesultanan Bima pada masa itu, tarian ini mengadu keperkasaan dan ketangkasan para prajurit kerajaan sedangkan alat pemukul adalah rotan dan di bantu dengan perisai yang terbuat dari kulit kerbau.

foto wadu sura



tarian soka sari

Tarian tradisional Soka awalnya merupakan tarian yang dilakukan oleh kesultanan Bima pada saat menerima tamu kerajaan.Tarian ini masih dapat dinikmati dan disaksikan pada saat anda mengunjungi salah satu desa di wilayah kesultanan Bima, tepatnya di Desa Sari Kecamatan Sape. Tarian ini secara turun temurun dilakoni oleh masyarakat setempat karena mereka adalah keturunan dari para hulubalang panglima perang kesultanan Bima


Seiring perkembangan zaman, Buja Kadanda, mp'a manda, serta tarian soka sari . sudah jarang dimainkan. Saat ini hanya tinggal beberapa sanggar Seni saja yang menampilkan atraksi ini seperti di kecamatan Wawo. Keli woha, Dan Bolo. sari. Perlu adanya perhatian dan pembinaan serta proses regenerasi terhadap atraksi kesenian tradisional ini. (pulunk86)