06/12/11

MAKAM TOLOBALI


Makam Tolobali terletak satu kilometer ke arah utara Kota Bima, tepatnya di wilayah Tolobali. Terdapat makam beberapa Sultan Bima dan tokoh agama, antara lain :
  • Makam Sultan Abdul Kahir Sirajudin (Ruma Mantau Uma Jati) Sultan Bima II, dilahirkan pada bulan Ramadhan 1038 H (April 1627 M) yang menikah dengan adik dari isteri Sultan Makasar bernama Daeng Sikantu.
  • Makam Sultan Nurudin Abubakar Alisya (Ruma Mawa’a Paju) Sultan Bima III, lahir tanggal 5 Desember 1651 yang beristrikan Daeng Tamemang, saudara Karang Langkese, anaknya Raja Tallo. Deberi gelar Ruma Ma Wa’a Paju karena beliau memadukan payung jabatan raja berwarna kuning yang dikenal dengan Paju Monca.
  • Makam Sultan Jamaluddin (Ruma Ma Wa’a Rowo). Sultan Bima IV, lahir pada tanggal 8 Agustus 1673 M. Diberi gelar Ruma Ma Wa’a Romo karena beliau pAndai becara, tegas dan lantang.
  • Syekh Umar Albantani, ulama besar asal Banten sebagai guru dan penyiar agama Islam di Wilayah Kesultanan Bima.
Untuk menuju Makam Tolobali, dapat dijangkau dengan jalan kaki atau menggunakan Benhur (kereta kuda khas Bima). [Sumber: Kenali dan Cintai Bima]

Bo Sangaji Kai


                                                 
Bo Sangaji Kai
Kedatangan Pangeran Bernard dan Duta Besar Belanda Van Dongen ke Bima pada 1984 membidani kelahiran kembali Bo Sangaji Kai
Kala itu, Hajjah Siti Maryam Salahuddin, salah satu putri Sultan Bima terakhir Muhammad Salahuddin, diminta pemerintah untuk mempersiapkan semacam pameran benda-benda peninggalan Kerajaan Bima.
Maka, berbagai senjata, perhiasan emas dan permata dikeluarkan. Tapi Maryam merasa tidak puas. “Rasanya ada yang kurang tanpa kehadiran kitab Bo Sangaji Kai,” ujar anak ketujuh dari sembilan bersaudara itu.
Dia kemudian mulai melakukan pencarian. Tidak sia-sia, akhirnya berhasil dikumpulkan dua peti naskah kuno. “Berserakan di mana-mana. Ada di banyak lemari dan banyak tempat di istana. Halamannya pun kacau, bahkan bagian terakhir ada yang rusak,” cerita Maryam.
Naskah kuno yang dikenal dengan sebutan Bo Sangaji Kai itu pun dipamerkan. Menyedot perhatian Pangeran Bernard dan Van Dongen. Mereka, kata Maryam, tidak tertarik dengan emas permata. Bo Sangali Kai justru menjadi favorit.
Dalam sebuah pertemuan, Pangeran Bernard bertanya, “Apakah Anda sudah mempunyai kopi naskah untuk berjaga-jaga jika hilang atau rusak?” Maryam tersentak, menjawab jujur, belum.
“Saat itu saya malu sekali. Mengapa orang asing yang peduli dengan peninggalan Bima? Siang itu, saya langsung ke pasar mengopi semua naskah. Tapi tidak selesai karena terlalu banyak hingga membuat mesin fotocopy rusak. Akhirnya proses itu dilanjutkan di Mataram, Lombok,” kenang Maryam yang sudah puluhan tahun tinggal di Mataram, hingga harus bolak-balik Mataram-Bima.
Kini, kopian naskah kuno sudah tersebar di beberapa tempat. Antara lain Perpustakaan Nasional dan museum di Belanda. Maryam masih menyimpan naskah asli.
Bo Sangaji Kai merupakan naskah kuno yang ditulis ulang pada abad 19. Antara lain menggunakan kertas dari Belanda dan China. “Ahli kertas pasti tahu karena di setiap lembarnya tercantum merek kertas yang digunakan,” papar Maryam.
Terlepas dari itu, kerajaan di daerah yang kaya kuda ini memang punya tradisi kuat mencatat dan menyalin kejadian. Dilakukan terus-menerus selama berabad-abad. Terakhir ditulis dalam bahasa Arab Melayu. Perubahan dari aksara Bima ke Arab dilakukan setelah Islam masuk Bima. Dalam naskah tersebut tertulis, menggunakan `bahasa yang diridhoiAllah’.
Itulah sekelumit kisah kelahiran kembali Bo Sangaji Kai Keberadaannya menyentak ahli arkeologi dan filologi dunia. Di antaranya Henry Chambert Loir, filolog dari Prancis. Dia sangat terkejut ketika diberi tahu ada dua peti naskah kuno Bo Sangaji Kai. Gairah keilmuannya langsung memuncak.
Henry mendatangi Maryam. Bersama-sama mereka melakukan penelitian, kemudian melahirkan buku berjudul Bo Sangaji Kai Catatan Kerajaan Bima. Diterbitkan Ecole Francaise d’Extreme Orient bekerja sama dengan Yayasan Obor. Buku itu merupakan sumbangan besar dalam dunia sejarah. Namun, pekerjaan belum selesai. Jalan masih panjang. Sampai sekarang, banyak naskah kuno Bima yang belum tersentuh. (86)

05/12/11

Surat Sultan M. Salahuddin Kepada Sultan Sumbawa




Bima, 14 Desember 1949

Dipermaklumkan kepada anakda serta keluarga bahwa kami seisi Istana adalah dalam keadaan sehat wal’afiat adanya, semoga tuhan melimpahkan rahmat selamat seterusnya ke hadapan anakda beserta keluarga hendaknya.

Selanjutnya ayahanda ma’lum kehadapan ananda, ayahanda telah menerima surat – kawat dines tanggal 12, 12, 1949 dari Sumbawa (daerah), dimana dinyatakan bahwa dengan presiden  NIT tanggal 26/11-49 No. 1604-prb/49 maka mulai satu oktober 1948 dibebani dengan pelaksanan Djawatan Comisaris Negara Selatan di Singaraja p. Tuan Mr.A. Verhoof, presiden yang dperbantukan pada Comisaris Negara Selatan di Singaraja.
Bagi ayahanda merasa kecewa, apakah sebabnya diangkat seorang dari Bangsa Belanda yang memangku jabatan tersebut, sedang d idalam sidang atau Comperensi Kepala – Kepala daerah dalam bulan Agustus 1949 di Makassar telah disetujui bersama, bahwa yang diangkat menjabat Comisaris Negara itu, haruslah seorang bangsawan Indonesia yang cakap dalam menjalankan jabatan tersebut.
Dalam hal ini, ayahanda meminta dengan hormat, kiranyi ananda dapat diperoleh penjelasan atau keterangan atas keangkatan seorang Belanda ini untuk menjabat Comisaris Negara.
Pendirian ayahanda tetap bahwa yang diangkat menjabat pangkat Comisaris Negara itu haruslah berbangsa Indonesia, karena hal itu tjoktjok dan sesuai dengan perasaan jiwa nasional kita.
Wassalam dari Ayahanda
Beserta keluarga
Seri Sultan Bima
Ttd
M. Salahuddin
(Dikutip Dari Dokumen Dan Surat-surat sultan M. Salahuddin


(http://alanmalingi.wordpress.com/2010/12/18/surat-sultan-m-salahuddin-kepada-sultan-sumbawa/)

Benarkah BIL (Bandara Internasional Lombok) sengaja di telantarkan..?


kemaren dlm perjalanan sy dr rumah ke BIL saya akhirnya naik taxi airport setelah menunggu bis damri tak kunjung tiba hampir 45 mnit.setelah nego disepakati tarifnya 50ribu dr eks bandara selaparang dengan pengemudi taxi bernama Pak Sutardi nomer taxi 019.saya tak sendiri tapi ada seorang porter yg ikut di belakang..sepertinya memang beliau berdua saling kenal.selama perjalanan Pak Tardi banyak bercerita soal BIL,mulai dr konflik sosial antar sesama travel "gelap",isu perampokan yg marak terjadi,inak2 yg berjualan dl area BIL,sampai penanaman pohon yg dilakukan oleh masyarakat terutama FDMN(meskikun sy 2 kali tak bisa ikut) :)..isu yg pertama adalah adanya travel gelap yg beredar di BIL ternyata membuat ketidaknyamanan penumpang.beberapa diantaranya yg menurut sy sangat menggelikan adalah ketidak tahuan alamat tujuan penumpang.(misalnya:Hotel sheraton resort diartikan POLRES,jadilah tamunya diantar kekantor polisi.).tamunya akhirnya komplain ke pihak AP 1..isu ke 2 soal perampokan,beliau bercerita justru by pass BIL aman,yg biasanya rusuh hanyalah preman2(pemabuk) yg kadang berkeliaran di area BIL,dan ada kepala premannya tapi sy lupa namanya ciri2nya tinggi kurus..dan yg mengejutkan adalah perampokan dengan mobil mewah sekelas inova yg ternyata di ketua orang luar yg merekrut rampok lokal..isu ke 3 adalah adanya pedagang asongan yg ternyata aji mumpung juga.beliau cerita harga aqua gelas aja seribu(memang lebih mahal dlm terminal BIL yg dikelola oleh orang yg katanya "profesional")..isu yg ke 4 adalah penghijauan,beliau ingin sekali lahan yg ratusan hektar itu cukup diambil 1 hektar buat tanaman buah2an,bayangkan 1 hektar isinya lengkap,lumayan menghemat anggaran belanja buah beliau yg butuh tenaga ektra untuk mengantar tamu dr BIL ke area mataram yg butuh waktu 2 jam bolak balik..dlm akhir perjalanan sy beliau menaruh harapan bahwa GM AP 1 yg baru(kayaknya Pak Agung yg bakal naik karna GM sekarang sudah mau pensiun kata beliau) agar lebih memperhatikan BIL dengan sepenuh hati..tak ada unsur kedaerahan"seolah2 BIL ditelantarkan karna jadi pesaing ngurah Rai" begitu pesan yg sy tangkap.. NOte:"isi tulisan diatas murni dr hasil tanya jawb singkat sy dengan 2 nara sumber yg terlibat langsung tiap hari dl aktivitas BIL,tak ada unsur memihak salah satu pihak manapun,intinya agar BIL lebih baik dan NTB lebih maju lagi"..Salam.

sumber Forum Diskusi Membangun NTB

PENGARUH ACEH DALAM GELAR SULTAN-SULTAN BIMA



Bagi para peminat sejarah Bima,sesungguhnya istilah Zhilullaahi fil ‘Alam sudah tidaklah begitu asing, karena istilah tersebut merupakan gelar tambahanyang dicantumkan pada nama Sultan. Secara etimologis, Zhilullaahi fil ‘Alamberarti Bayangan Allah di muka Bumi. Barangkali jika diperluas secaratermonologis akan berarti; bahwa Raja-raja Bima menjadi cerminan daripelaksanaan sifat dan asma’ Allah dalam memimpin masyarakatnya. Mengupas istilah tersebut tidak akan pernah lepas juga dari pembahasan tentang corak dan gerak Islam di masa-masa Kesultanan. Di sisi lain, belum begitu banyak catatan atau penjelasan lebih lanjut dari para sejarawan tentang asal mula Islam ditanah Bima. Kalaupun ada, semuanya selalu bertaut pada tema sentral tentangmasuk Islamnya Raja Bima La Kai yang berhasil melawan Salisi. Dan sumber-sumberresmi pun susah untuk kita cari. Barangkali Zollinger-lah yang mungkin sedikitberbeda pandangan dengan kebanyakan sejarawan, termasuk berbeda pula dengannaskah-naskah Melayu tentang Bima.
 
Zollinger dalam 1850, ‘ Verslag van eene reis naar Bima en Soembawa, ennaar eenige plaatsen op CelebesSaleijer en Florisgedurende de maanden Mei tot December 1847‘, 

menyebutkan bahwa Islamisasi Bima berlangsung pada tahun 1450-1540, lebih maju dua abad dari catatan resmi Bo’ yang kitatahu yakni sekitar tahun 1621-1640 M. Tulisan Zollinger pun menjadi referensi sejarawanterkemuka dunia Sir Thomas Walker Arnold dalam The Preaching of Islam-nya untuksedikit menggambarkan proses masuknya Islam di Bima.
 
Dalam daftar resmi Bo’ SangajiKai tentang nama-nama Sultan Bima, penyebutan istilah Syah baru muncul pada Sultanketiga  yaitu Sultan Nuruddin AbubakarAli Syah. Dan terakhir pada sultan ke sepuluh yaitu Sultan Ismail MuhammadSyah. Dari 15 Sultan yang memerintah Kerajaan Bima sejak 1621 – 2001 M(termasuk Alm. Sultan H. Abdul Kahir), hanya terdapat delapan orang Sultan yangmendapat gelar tersebut. Entah apa penyebabnya, tetapi barangkali iniberdasarkan catatan resmi yang ada dalam naskah Bo’ Sangaji Kai yang disesuaikandengan catatan pengakuan pemerintah Belanda terhadap Sultan-sultan tersebut.Raja-raja Bima yang digelari dengan Syah Zilullaahi Fil Alam itu berurutansebagai berikut :

Nuruddin Abubakar AliSyah (1682 – 1687);
Jamaluddin Ali Syah (1687– 1696);
Hasanuddin MuhammadAli Syah (1696 – 1731);
Alauddin Muhammad Syah(1731 – 1748)
Kamalat Syah – Periode(1748 – 1751)
Abdul Kadim MuhammadSyah (1751 – 1773);
Abdul Hamid MuhammadSyah (1773 – 1817)
Ismail Muhammad Syah (1817 – 1854)

Nama-nama ini saya kutip langsung dari Daftar Nama Sultan yang ada dalamBo’ Sangaji Kai (Henry Chambert-Loir & St. Maryam Salahuddin). Sejenak sayamengajak sahabat-sahabat untuk memperhatikan lebih teliti pencantuman kata Muhammad Syah di belakang nama asli para Sultan, meskipun untuk SultanNuruddin dan Sultan Jamaluddin menggunakan tambahan Abubakar Ali Syah danMuhammad Ali Syah. Tetapi angle kupasan kita adalah munculnya istilah Syah itusendiri.
Dalam beberapa naskah suratnya kepada Belanda, Sultan Abdul Muhammadmenggunakan nama lengkap Sultan Abdul Hamid Muhammad Syah Zilullaahi fil ‘Alam.Bagaimanakah asal muasal istilah ini dalam kesultanan Bima, dan kapankahistilah ini mulai digunakan oleh para Raja.
Pada lima dasawarsa pertama abad ke 16, kita mengenal beberapa nama Sultandi Malaka antara lain Sultan Mahmud Syah, Sultan Mughayat Syah dan SultanMuzafar Syah. Bahkan dalam catatan sejarah Pattani, setelah Sultan Mansur Syahmenduduki takhta kerajaan Melayu Patani, dia meninggalkan dua orang putra, RajaBahadur Syah dan Raja Bima, anak yang diperolehnya dari selir. Dalam sejarah di Aceh Besar, dikenal tentang kisah masuk Islamnya RajaLamuri (Marcopolo menyebutnya Lambri), adalah Teungku Abdullah Lampeuneuen yangmenyiarkan dakwah di sana pada sekitar abad ke 16 M, baginda raja Lamuri kemudiandiberi gelar Sultan Alaidin Johansyah Zhilullah fil’Alam. Untuk sekedarperbandingan juga, berikut ini daftar para sultan yang pernah berkuasa di kerajaanAceh Darussalam:

1. Sultan Ali Mughayat Syah (1496-1528 M)
2. Sultan Salahuddin (1528-1537).
3. Sultan Ala‘ al-Din al-Kahhar (1537-1568).
4. Sultan Husein Ali Riayat Syah (1568-1575)
5. Sultan Muda (1575)
6. Sultan Sri Alam (1575-1576).
7. Sultan Zain al-Abidin (1576-1577).
8. Sultan Ala‘ al-Din Mansur Syah (1577-1589)
9. Sultan Buyong (1589-1596)
10. Sultan Ala‘ al-Din Riayat Syah Sayyid al-Mukammil (1596-1604).
11. Sultan Ali Riayat Syah (1604-1607)
12. Sultan Iskandar Muda Johan Pahlawan Meukuta Alam (1607-1636).
13. Iskandar Thani (1636-1641).
14. Sri Ratu Safi al-Din Taj al-Alam (1641-1675).
15. Sri Ratu Naqi al-Din Nur al-Alam (1675-1678)
16. Sri Ratu Zaqi al-Din Inayat Syah (1678-1688)
17. Sri Ratu Kamalat Syah Zinat al-Din (1688-1699)
18. Sultan Badr al-Alam Syarif Hashim Jamal al-Din (1699-1702)
19. Sultan Perkasa Alam Syarif Lamtui (1702-1703)
20. Sultan Jamal al-Alam Badr al-Munir (1703-1726)
21. Sultan Jauhar al-Alam Amin al-Din (1726)
22. Sultan Syams al-Alam (1726-1727)
23. Sultan Ala‘ al-Din Ahmad Syah (1727-1735)
24. Sultan Ala‘ al-Din Johan Syah (1735-1760)
25. Sultan Mahmud Syah (1760-1781)
26. Sultan Badr al-Din (1781-1785)
27. Sultan Sulaiman Syah (1785-…)
28. Alauddin Muhammad Daud Syah.
29. Sultan Ala‘ al-Din Jauhar al-Alam (1795-1815) dan (1818-1824)
30. Sultan Syarif Saif al-Alam (1815-1818)
31. Sultan Muhammad Syah (1824-1838)
32. Sultan Sulaiman Syah (1838-1857)
33. Sultan Mansur Syah (1857-1870)
34. Sultan Mahmud Syah (1870-1874)
35. Sultan Muhammad Daud Syah (1874-1903)
Saya yakin, ketika sahabat-sahabat membaca urutan nama-nama Sultantersebut, sepintas akan berpikir ada kesamaan dengan nama-nama Sultan Bima.Perbedaan yang sangat esensial ialah angka tahun periode kesultanan itudimulai. Kalau Bima memulainya pada tahun 1640, atau pencantuman gelar Syah itupada tahun 1682, maka di Aceh itu sudah dimulai pada tahun 1496, atauberselisih dua abad. Ini wajar saja, karena kontak Islam saat itu menempuhjalur perdagangan, dan rutenya mengikuti rute pelayaran masa itu di mana Malakaadalah pintu gerbang nusantara.
Membicarakan pencantuman gelar Syah dan Zilullah fil ‘Alam dalam nama-namaSultan Bima tentu saja tidak bisa dipisahkan dari tema kontak bilateral antaraMalaka (Aceh) dan Bima. Seperti yang pernah saya posting sebelumnya, bahwa padatahun 1515 Tome Pires sudah mencatat tentang kontak dagang Bima dengan  Malaka bahkan sampai ke Siam (Pattani),meskipun Pires mencatat bahwa Raja Bima adalah seorang pemimpin yang masih kafirdan memiliki banyak candi (pharaos). Setidaknya ini menggambarkan bahwasebahagian pelaut dan pedagang regional Bima sudah mengenal Islam lebih awal,dan memiliki hubungan khusus dengan beberapa pedagang penting di Malaka.
Dalam naskah Melayu Bo’ Sangaji Kai yang memuat catatan Belanda tentangpengakuan legitimasi Raja Bima, istilah Syah tidak muncul pada nama AbdulKahir, Abil Khair Sirajuddin maupun Nuruddin. Pada masa Sultan-sultan ini,kontak diplomatik Bima lebih dominan berpatron ke Gowa, karena selain merujukawal mula Kesultanan terbentuk, juga terdapat transmisi genetik yang dibangunsejak Abdul Kahir mempersunting Daeng Melu (ipar Sultan Alauddin Goa). Sehinggapada masa ini memang istilah Syah belum digunakan dalam struktur Hadatkesultanan Bima.
Saya menduga, pencantuman istilah Syah dalam tradisi Sultan Bima adalahimbas dari peralihan genetik Sultan pada periode kepemimpinan Sultanah KamalatSyah. Pada saat inilah Kerajaan Bima mulai menggeser orientasi dan patronasenyake Malaka (Aceh). Kebijakan ini muncul pada sekira periode pemerintahan SultanAbdul Qadim. Seperti kita ketahui, rata-rata Sultan Bima dilantik pada usiabelia(belum mumayyiz), secara otomatis Wazir (perdana menteri) mengendalikanpemerintahan bersama majelis Sara yang ada. Nah, tingkat komunikasi politiklintas Kesultanan di kala itu sudah mulai masuk pada masa penyatuan visipenyeragaman hukum. Ini suka atau tidak suka harus diikuti pula oleh KerajaanBima sebagai satu dari sekian banyak Kesultanan yang berdaulat di nusantara.Ekspansi Khilafah Ottoman sampai ke nusantara pada pertengahan abad ke 16 juga bertujuanuntuk mengimbangi penetrasi bangsa-bangsa Eropa dalam memonopoli perdaganganrempah-rempah. Sebagai satu-satunya khilafah Islam yang disegani di dunia, makaTurki mendesak seluruh poros kerajaan Islam untuk bersatu di bawah panjiImperium Utsmaniyyah, dan Aceh (Malaka) dipercayai untuk memimpinkesultanan-kesultanan lain di Indonesia.
Pada masa Abdul Qadim ini pulalah, Bima mulai mengurangi porsi hubungandengan Gowa, meskipun secara kebudayaan Bima tidak bisa melepaskan Gowa begitusaja. Dan Aceh kemudian menyebarkan delegasi-delegasi resminya ke seluruhkerajaan di Nusantara untuk menggalang persaudaraan sesama agama. Melaluikontak-kontak inilah akhirnya konstitusi Islam yang sah diterapkan di Malakajuga disodorkan pada seluruh kerajaan Islam di nusantara. Kesultanan Bima yangsedang berada dalam tekanan Belanda pasca pelengseran Komalat Syah tentumembutuhkan dukungan politik kuat untuk meneguhkan sikapnya di hadapan Belanda,dan Malaka menjadi jaminan baru bagi kesultanan Bima karena kedekatannya denganKhilafah Utsmaniyyah secara langsung.
Sejak masa inilah hukum-hukum Islam dalam kesultanan Bima dikodifikasikembali, termasuk adopsi banyak istilah dalam tradisi istana. Maka kata-kata Muhammad Syah Zhilullaahi fil ‘Alam pundilekatkan pada nama Sultan, untuk menunjukkan identitas politik sertapenegasan dari adanya perlindungan Turki yang mem-back up Bima secara langsung.Jadi istilah ini adalah buah dari kedekatan diplomatik dan kesamaan konstitusiantara Aceh dan Bima. Selanjutnya, para juru tulis kesultanan mulai menggunakan label ini padanama Sultan Abdul Qadim,penulisan ini menjadi standar pencantuman nama resmidalam kerajaan. Tidak hanya itu saja, jika memperhatikan beberapa surat SultanAbdul Hamid misalnya, penggunaan istilah-istilah Arab dalam suratnya seolahmengisyaratkan bahwa di Bima terdapat beberapa juru tulis khusus yang sudahmahir menulis surat-surat Arab Melayu. Bukan hanya label bagi Sultan yangdiadopsi mentah-mentah oleh para administratur kerajaan waktu itu, tetapi jugapencantuman sebutan Arab bagi perdana Menteri yakni Wazir Al Mu’azzam (WazirAgung). Frase-frase seperti Sultan, Wazir, Syah dan Al Haq sesungguhnyamerupakan ciri dari Al Qanun yang dibuat oleh Sultan Sulaiman The Magnificientdari Ottoman. Kerajaan Aceh sendiri, dan hampir semua kerajaan Islam di wilayahPattani dan Malaka benar-benar menerapkan hukum kerajaan yang diserap secaralangsung dari Khilafah Utsmaniyyah Turki.
Kalaupun kemudian istilah Syah ini disematkan pada beberapa Sultan sebelumAbdul Qadim, maka itu adalah kepentingan Kerajaan melalui para juru tulis untukmelakukan penyeragaman nama Sultan dalam silsilah resmi kerajaan. SultanSirajuddin, Nuruddin, Jamaluddin, Hasanuddin dan Alauddin adalah generasiSultan yang membangun kerajaan Bima dengan berpatronase pada Gowa, baik secarapolitik maupun administrasi kesultanan, pada masa mereka ini kontak diplomatikdengan Aceh belumlah seintents di era Abdul Qadim, karena era 1640 – 1740penetrasi dan determinasi Belanda ke Bima masih menggunakan tangan Gowa.
Kesimpulannya; Gelar Muhammad Syah Zhilullah fil ‘Alamdiserap langsung dariKesultanan Aceh atas regulasi penyeragaman konstitusi Daulah Islamiyyah olehSultan Abdul Hamid I dari Khilafah Utsmaniyyah Turki. Gelar itu mulai digunakansecara resmi pada masa pemerintahan Sultan Abdul Qadim tahun 1751 – 1773. Dandicantumkan terus menerus sampai pada masa pemerintahan cucunya Sultan Ismail,jadi secara faktual kontak diplomatik antara Bima dengan Aceh berlangsungintens selama ± 1 abad lamanya atau terhitung sejakpemakzulan diri Sultan Alauddin (1748)sampai pada masa berakhirnya pemerintahan Sultan Ismail tahun 1854. Setelahmasa itu, Kesultanan Bima mengalami periode yang rumit karena harus membenahibeberapa masalah klasik tentang penunjukkan Sultan. (?)

(86)
(sumber: http://ansorkotabima.wordpress.com/category/sejarah/)

PANGERAN DIPONEGORO BERDARAH BIMA


Pada catatan kaki buku berjudul Asal Usul Perang Jawa karangan Dr. Peter Carey tertulis :


“Moyang  perempuan Dipanegara, Ratu Ageng ( Tegalrejo ) ( C. 1735 - 1803 ) adalah putera Ki Ageng Derpayuda, Kyai termashur pada awal abad 18 yang berdiam di kawasan Sragen di dekat Surakarta. Melalui Ibunya Ni Agung Derpayuda ratu Ageng ( Tegalrejo ) dilahirkan dalam generasi Ketiga dari Sultan Bima di Sumbawa, kesultanan di Indonesia bagian Timur yang tersohor ketaatannya pada agama Islam. Karena itu dalam diri Dipanegara mengalir darah Madura ( dari neneknya ratu Kedhaton ) yang meninggal tahun 120 dan darah Bima”.   

Pada dokumen lain yang berasal dari Raja-Raja Mataram ada disebutkan : “Kyai Suleman Bekel Jamus (Surakarta ) adalah putera raja Bima dan lahir 1601”. Dokumen ini memberikan petunjuk bahwa dalam abad 17 di Kerajaan Mataram ada putera Raja Bima yang sedang mengabdi di sana. Dihubungkan dengan tulisan Dr. Peter Carey, maka kedua dokumen itu saling mengukuhkan dan membenarkan.

Dikaitkan dengan silsilah Raja-Raja Bima, kelahiran Kyai Suleman tahun 1601 sama dengan tahun kelahiran Sultan Abdul Kahir, Sultan pertama Kerajaan Bima. Antara Kyai Sulaiman dan Sultan Abdul Kahir sebaya. Dari data tersebut tidak mungkin saudaranya Sultan Abdul Kahir apalagi keturunan generasi berikutnya sebagaiman dikemukakan sementara orang, yang kawin dengan Puteri Madura. Melainkan setidak-tidaknya salah seorang keluarga Raja Bima generasi ayah Sultan Abdul Kahir yakni pamannya yang kawin dengan Ratu Kedhaton Puteri Madura. Siapakah paman Sultan Abdul Kahir yang kawin dengan Ratu Kedhaton dari Madura ? Berorentasi kepada waktu, maka periode masa pemerintahan Raja Bima Ma Waa Ndapa mempunyai kaitan dengan data yang dikemukakan. Ma Waa Ndapa mempunyai 5 orang anak, 4 orang putera dan seorang puteri yaitu : 
  1.  Sarise, menjadi Raja Bima. 
  2.  Mantau Asi Sawo, menjadi Raja Bima, melahirkan Sultan Abdul Kahir. 
  3.  Manuru Sarei. 
  4.  Salisi, Raja Ma Ntau Asi Peka, Menjabat wali Raja bima. 
  5.  Seorang puteri, Ibu Bumi Jara. 
Keempat saudara itu hanya Manuru Sarei yang tidak menjabat jabatan resmi Kerajaan. Pendapat itu diperkuat  dengan namanya Manuru sarei yang artinya yang tinggal dihalaman. Pada masa pemerintahan Raja Ma Ntau Asi Sawo Kerajaan Bima mencapai tingkat kemakmuran yang tinggi dan mempunyai hubungan dengan Bandar Gowa dan Gresik – Surabaya. Namun sesudah Raja Ma Ntau Asi Sawo wafat, saudaranya Salisi Ruma Ma Ntau Asi Peka memangku sebagai wali kerajaan disebabkan putera mahkota yakni Ruma Ma Mbora di Mpori Wera belum mencapai usia dewasa. Dalam kesenjangan waktu tersebut Ia ingin merebut tahta kerajaan sehingga timbul kemelut politik yang berkepanjangan serta meminta korban besar baik jiwa maupun materi. Rupanya dalam kemelut itu saudaranya Ma Nuru Sarei meninggalkan Bima menuju pula Jawa mengikuti jalur perdagangan yakni di Gresik. Gresik disamping pusat perdagangan Islam juga menjadi pusat pengembangan agama Islam. Manuru Sarei memeluk agama Islam. Karena Dia adalah salah seorang keturunan Raja Bima maka perkawinannya dengan Ratu Kedhaton tidak ada masalah. 

Selanjutnya Dr. Peter Carey menulis : 

"Ibu Dipanagara Raden Ayu Mangkara Wati ( c. 1770 – 1852 ) isteri tidak resmi ( Garwa Ampean ) Sultan Hamengku Bowono III ( m. 1812 – 1814 ) adalah anak keturunan Kyai Ageng Prampelan ( orang dipuja-puja dizaman Senopati”.

Dari data serta keterangan tersebut dapat disimpulkan :  
  1. Kyai Ageng Derpa Yuda adalan anak Kyai Sulaiman Putera Raja Bima
  2. Kyai Ageng Derpa Yuda mempunyai puteri bernama Ratu Ageng yang tinggal di Tegalrejo 
  3. Ratu Ageng Tegalrejo mempunyai puter bernama Raden Ayu Mangkara Wati. 
  4. Raden Ayu Mangkara Wati kawin dengan Sulta Hamengku Bowono III. 
  5. Dari perkawinannya itu melahirkan pangeran  Diponegoro yang dikenal pula dengan nama pangeran Ngabdulkamid.                                           
Dalam diri pangeran Diponegoro pahlawan Nasional pahlawan nasional mengalir darah campuran Bima – Madura sebagai cikal bakal moyangnya lahir sebagai generasi kelima. Selama dalam pengasingan Belanda Pangeran Diponegoro menggunakan namaPangeran Ngabdulkamid.(*86)

(sumber: http://fitua.blogspot.com/2011/11/pangeran-diponegoro-berdarah-bima.html)