17/10/11

[Bima] dalam pakaian adat pernikahan

[Bima] dalam pakaian adat pernikahan

Pakaian adat bima


TEMBE  MUNA


Tenun Ikat Bima pernah dikenakan oleh Kepala-Kepala Negara pada Pertemuan APEC di Bali beberapa Tahun Lalu. Termasuk dikenakan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada saat menyampaikan Visi Misinya sebagai Calon Presiden di hadapan Anggota KADIN pada Pemilu Pilpres Tahun 2009. Hal ini tentunya menjadi sebuah kebanggan bahwa daerah kecil di ujung timur NTB ini memiliki segudang potensi alam dan budaya yang perlu dikembangkan.

Secara umum busana atau pakaian adat Bima hampir sama dengan Sulawesi Selatan. Hal itu diperkuat dengan ikatan sejarah bahwa Bima dengan Makasar, Gowa, Bone dan Tallo itu memiliki hubungan dan ikatan kekeluargaan serta kekerabatan. Proses pembauran dan asimilasi budaya itu telah berlangsung lama dan mempengaruhi juga cara berbusana dan motif busana yang dikenakan. Meskipun ada beberapa perbedaan antara busana adat Bima dengan Sulawesi Selatan.
Warna yang menonjol dalam pakaian adat Bima antara lain hitam, biru tua, coklat, merah dan kemerah-merahan serta putih. Untuk pakaian wanita memakai kain sarung kotak-kotak yang dikenal dengan sebutan Tembe Lombo. Disamping pakaian sehari-hari pakaian adat juga diatur oleh pihak Kesultanan. Yang diatur oleh Majelis Adat yang disebut KANI SARA. Prosedur dan Tata Cara pemakaiannya pun telah diatur dalam ketetapan Hadat.
Menurut Muslimin Hamzah ada empat golongan pakaian adat sehari-hari masyarakat Bima. Pertama, pakaian yang digunakan secara umum sebagai pakaian harian atau pakaian untuk acara resmi. Kedua, pakaian Dinas Para Pejabat Kesultanan. Ketiga, Pakaian Pengantin, baik yang dipakai oleh golongan bangsawan, golongan menengah, maupun golongan masyarakat umum termasuk pakaian untuk khitanan. Keempat, Pakaian Penari.
Dalam kehidupan sehari-hari orang Bima mempunyai pakaian sendiri. Khusus untuk wanita meliputi Baju Poro. Baju ini terbuat dari kain yang agak tipis tetapi tidak tembus pandang. Umumnya berwarna biru tua, hitam, coklat tua dan ungu. Bagi gadis-gadis Bima biasanya memakai warna ungu atau coklat tua. Para wanita pun memakai aneka perhiasan seperti gelang, anting dan lain-lain. Namun terlarang untuk memakai secara berlebihan.
Kaum Pria mempunyai pakaian sehari-hari yang khas. Yang lazim adalah Sambolo atau Ikat Kepala. Umumnya bercorak kotak-kotak dan dihiasi tenunan benang perak/emas. Terkadang lelaki memakai baju kemeja atau baju lengan pendek atau jas tutup dengan warna putih atau hitam atau warna cerah lainnya. Untuk sarung biasanya memakai sarung pelekat yang dikenal dengan nama Tembe Kota Bali Mpida yang bercorak Kotak-kotak atau memaki Tembe Nggoli yang pemakaiannya agak panjang atau terjurai pada bagian depannya.
Untuk hiasan kaum pria memakai Salampe, sejenis dodot yang dililitkan dipinggang. Biasanya salampe berwarna dasar kuning, merah, hijau dan putih. Bagi orang dewasa biasanya menyelipkan pisau pada lilitan Salampe. Letaknya agak ke kiri pusar, sedangkan hulunya agak terjurai ke kanan. Pakaian dan busana adat Bima sangat banyak. Ini adalah kekayaan dan kearifan masa silam yang seharusnya dipertahankan dari terpaan arus globalisasi saat ini. Hanya beberapa saja yang masih dapat dilihat dan diperagakan hingga saat ini. Perlu ada upaya serius untuk melestarikan dengan berbagai kebijakan Pemerintah Daerah agar pakaian adapt ini tidak punah ditelan arus zaman. Perlu ad aide kreatif untuk mempertahankannya misalanya dengan menggelar Show Busana Adat Bima atau menetapkan dalam Peraturan Daerah tentang pelestarian Pakaian Adat Bima (sumber, http://sarangge.wordpress.com/2010/06/19/busana-adat-bima-yang-anggun/)

14/10/11

Potret Buram Dunia Pendidikan Di Bima

seperti inikah potret buram pendidikan di sila-Bima, Nusa Tenggara Barat. Di SDN 9 Sila. kondisi sekolah yang sangat memprihatinkan, para murid belajar di kelas yang separuh sudah roboh dan sewaktu waktu bisa ambruk. Liputan6.tv :: Belajar Dalam Suasana Khawatir ::

13/10/11

Apakah Seperti ini karakter Pendidikan Kita..?

Dunia pendidikan kita semakin tercoreng. lagi lagi seorang guru memukul anak muridnya. dan polisi mengaman kan guru tsb. inilah masalah masalah dam pendidikan kita. siapakah yang di salahkan apakah Negara belum mampu melaksanakan amanat UUD yaitu 20% APBN untuk pendidikan. ?
tentunya dalah maslah ini sarana dan prasarana pendidikan yang tidak mendukung belom termasuk tapidi llihat dari dampak psikologis dari anak murid dan pengajar tentunya masih saling terkait. karna dengan fasilitas yang nyaman dan suasana yang memberikan ketentraman penggunanya akan memeberikan perasaan bahagia. keprofesionalan guru yang rendah sering terjadi di dunia pendidikan kita, di mana guru kerap kali menampilkan emosinya ketika tidak mampu memberiakan pendidikan yang di inginkan muridnya. pendidiakn yang di berikan orang tua semakin rendah dengan moral dan agama apakah seperti ini karakter dari pendidikan kita..?

12/10/11

Oknum Mahasiswi Tinggalkan Bayi Di RSUD Bima | Portal Berita Komunitas Babuju Bima BABUJU.COM

semua itu banyak yang harus bertanggung jawab. bagaiman perkembangan nilai moral yang terjadi di masyarakat kita. bima kini sudah masuk dalam sebuah peradaban, dimana akhlak tidak di perhitungkan, bagaimana bisa seorang ibu tidak bisa menghargai nyawa anaknya kalau itu adalah anak dari hasil halalnya. kita harus benahi diri perkuat iman, jadikan semua ini adalah pembelajaran. Oknum Mahasiswi Tinggalkan Bayi Di RSUD Bima | Portal Berita Komunitas Babuju Bima BABUJU.COM

novel "Nika Baronta" Masuk Nominasi festival UBUD 2011


#saveBima_online: Novel sejarah berjudul “Nika Baronta” yang ditulis oleh Alan Malingi berhasil masuk nominasi 15 karya terbaik pada event UBUD Writer and Readers Festival (UWRF) 2011 atau Festival Ubud 2011 di Ubud, Bali. Dalam Novel “Nika Baronta” mengisahkan perjuangan masyarakat Bima pada masa penjajahan Jepang.
Pada Festival Kesusastraan bertaraf internasional itu, cerita tentang penderitaan masyarakat Bima dan peristiwa “Nika Baronta” yang terjadi antara tahun 1942 sampai 1945, banyak didiskusikan oleh para penulis dari 25 negara yang diundang pada kegiatan tersebut.
Alan Malingi, usai Diskusi yang juga dihadiri penulis Best Seller Indonesia Andrea Hirata mengatakan, bahwa ‘Nika Baronta’ (Nikah Berontak) merupakan peristiwa sejarah langka yang terjadi di Bima pada masa itu.  Keinginan Jepang untuk mengirim gadis-gadis Bima-Dompu untuk dipekerjakan di luar daerah sebagai Ian fu ditentang keras oleh Sultan Muhammad Salahuddin dan para pejuang.
“Sebagai trik antisipatif untuk menggagalkan rencana itu, Sultan dan para pejuang mengeluarkan ultimatum untuk menikahkan para gadis secepatnya. Para orang tua sibuk mencarikan jodoh dan menikahkan putri-putrinya sesegera mungkin agar tidak diambil dengan paksa oleh Jepang,” urai Alan Malingi yang juga kontributor Gomong.Com, saat jumpa pers di Media Center UWRF.
Menurut Alan, cerita novel ini berawal dari fase-fase akhir pemerintah Kolonial Belanda di Bima. Kemudian pengambilalihan kekuasaan dari Belanda kepada Kesultanan Bima, dan masuknya Jepang mulai tahun 1942 – 1945.
Tahun-tahun itu, lanjutnya, telah terjadi peristiwa yang memilukan dan menyayat hati masyarakat Mbojo. Penderitaan lahir batin dialami masyarakat Bima-Dompu di bawah kekuasaan Jepang. Romusha, pelecehan seksual, kekerasan, wabah penyakit dan kelaparan menghantui.
“Namun berkat Rahmat Allah SWT, ‘Merah Putih’ pun berkibar di depan Istana Bima yang menandai datangnya ‘angin’ kemerdekaan itu,” tandas Alan usai menjadi pemateri Teknik Penulisan Cerita Rakyat  pada acara Children And Youth Program di Bale Banjar UBUD.
Sebagai novel sejarah, Novel Nika Baronta banyak menguak fakta sejarah, baik yang termuat dalam buku-buku sejarah maupun penuturan langsung dari para pelaku sejarah yang masih hidup. Dan, sebagai karya sastra tentunya permainan imajinasi dari penulis juga memberi warna tersendiri dalam novel setebal 171 halaman yang diterbitkan Genta Press Jogjakarta tahun 2007 itu.
Berapa lama Alan menulis novel itu?
Proses penulisan novel ini berlangsung sekitar tiga tahun, dan Alan Malingi telah melakukan serangkaian wawancara dan penggalian sumber-sumber sejarah. Menurutnya, penulisan novel ini didasari keinginan untuk mengangkat sejarah dan cerita daerah untuk dikenal oleh publik baik di dalam maupun luar negeri.
“Saya merasa bersyukur bisa diundang ke UBUD untuk memperkenalkan karya dan sekaligus mempromosikan Bima lewat sastra,” ucap Alan sebelum mengikuti panel Diskusi Legend And Lores Narrative Inspiring Contenpory Writing (Inspirasi menulis Cerita Rakyat Tradisional) di Left Bank Restaurant UBUD (86)

09/10/11

Ulurkan Tangan Kita.!

#saveBima_peduli. Pian (20), Penderita TBC Kulit, Warga Sarita Desa Punti Kec Soromandi Kab Bima.... Penyakit ini diderita sejak tahun 2006, sudah pernah dirawat di RSUD Bima, Dompu dan RS Mataram. Namun, terpaksa dipulangkan karena keterbatasan Biaya.
Siswa Alumni MTsN Padolo tahun 2004/2005 ini hidup dengan neneknya, karena orang tuanya telah bercerai.

JIKA ADA YANG TERGUGAH & PARA DERMAWAN YANG TERGERAK HATINYAUNTUK MEMBANTU, Komunitas BABUJU Membuka DOMPET PEDULI KEMANUSIAAN Untuk Pian. Trims

REK DOMPET PEDULI KEMANUSIAAN BABUJU Untuk PIAN :
- BRI Cab Bima nomor: 0079-01-042085-50-6, a/n Komunitas BABUJU
- BNI Cab Bima nomor: 0216087863 a/n JULHAIDIN

Mohon Konfirm via sms di nomor: 087866893435, Bila telah mentransfer, untuk dapat kami ketahui. Trims banyak untuk segalanya, dan semoga Pian dapat lekas Sembuh.  

sumber (fb http://id-id.facebook.com/BimakuTanahku)